Pergerakan Harga Dinar 24 Jam

Dinar dan Dirham

Dinar dan Dirham
Dinar adalah koin yang terbuat dari emas dengan kadar 22 karat (91,7 %) dan berat 4,25 gram. Dirham adalah koin yang terbuat dari Perak Murni dengan berat 2,975 gram. Khamsah Dirham adalah koin yang terbuat dari Perak murni dengan berat 14,875 gram. Di Indonesia, Dinar dan Dirham diproduksi oleh Logam Mulia, unit bisnis dari PT Aneka Tambang, Tbk, dan oleh Perum PERURI ( Percetakan Uang Republik Indonesia) disertai Sertifikat setiap kepingnya.

31 Agustus 2009

Tidak Ada Balasan Untuk Kebaikan Selain Kebaikan Pula ...


Kalau saja iman seseorang bisa diukur dengan suatu alat ukur yang singkatnya sebut saja Imanmeter, maka mungkin ayat disamping yang artinya “tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula” (QS Ar-Rahman 60) bisa menjadi salah satu indicator-nya. Ada salah satu guru saya dulu mengajarkan iman itu seperti angin, tidak bisa dilihat tetapi keberadaannya bisa kita rasakan. Mumpung ini bulan puasa - bulan kebaikan – saya ingin mengajak pembaca untuk merasakan atau bahkan ‘mengukur’ keberadaan iman kita masing-masing.

Salah satu rukun iman, kita sudah belajar sejak kecil dahulu adalah percaya kepada kitab-kitabNya. Kita juga belajar bahwa iman itu diucapkan dengan lisan, diyakini dalam hati dan diamalkan sebagai perbuatan. Nah yang terakhir ini yang akan kita gunakan sebagai indicator untuk imanmeter kita kali ini.

Keimanan kita kepada Al-Quran seharusnya membuat hati kita yakin bahwa janji-janji Allah yang kita baca (ucapkan) dari Al-Qur’an tersebut pasti benarnya. Selain sudah terbukti dalam berbagai bidang keilmuan, ada setidaknya 13 tempat dalam Al-Qur’an yang memang menyebutkan “…sungguh janji Allah itu benar…”.

Kalau kita sudah baca/ucapkan dan kita yakini kebenarannya, sekarang tinggal membuktikannya dengan perbuatan. Logikanya, kalau kita hanya ucapkan dan yakini tetapi tidak kita amalkan dalam perbuatan, maka kemungkinan besarnya iman itu tidak sempurna di diri kita atau jangan-jangan memang tidak ada…naudzubillahi min dzalik.

Dalam ayat yang saya sebutkan diatas Allah menjanjikan bahwa “tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula”, kalau keimanan itu ada di diri kita - setelah kita baca bahwa ada ayat tersebut di Al-Qur’an, kemudian juga kita yakini bahwa janji tersebut pasti benar , maka kemudian pasti kitapun akan mengamalkannya dengan banyak-banyak berbuat kebaikan.

Sekarang kita lihat pengamalannya mulai dari diri kita dahulu, berapa banyak kebaikan yang telah kita lakukan hari ini, minggu ini, bulan ini, tahun ini dan sejak kita balig ?, kalau kita bisa menghitungnya cukup banyak – maka insyaallah keimanan ini ada di dalam diri kita – kita ucapkan alhamdulillah dan kita niatkan untuk meneruskan bahkan meningkatkan perbuatan baik tersebut.

Sebaliknya bila dengan jujur kita tidak banyak bisa menemukan kebaikan yang telah kita lakukan, maka kemungkinan besarnya memang belum sempurna keimanan itu ada pada diri kita. Kita beristigfar untuk ini, dan kita niatkan untuk memperbaikinya dalam sisa usia kita.

Sekarang kita lihat lingkungan masyarakat dimana kita tinggal; di jalan-jalan, di perdagangan dan bisnis, di politik, di pengelolaan negara – pendek kata di seluruh lapangan kehidupan kita; sudah banyakah kebaikan yang kita bisa saksikan ?. Kalau jawabannya belum, instropspeksinya harus balik ke diri kita. Bagaiamana kita bisa mendapatkan kebaikan sedangkan diri kita sendiri belum berbuat kebaikan ?.

Cermin kecilnya bisa kita lihat sehari-hari di jalan raya; jalan macet semrawut, saling serobot, masing-masing kita selalu menyalahkan orang lain, menyalahkan polisi, padahal kita sendiri juga tidak mau mengalah dan tidak mau berkorban sedikitpun untuk memudahkan orang lain.

Bidang ekonomi dan politik-pun sama semrawutnya dengan kondisi kita di jalan raya tersebut; mengapa ? karena cermin ini tidak pernah berbohong , karena sumbernya sama – yaitu keimanan tadi. Bila ada keimanan dalam mayoritas masyarakat kita, meskipun padat berkendara di jalan raya akan terasa nikmat karena orang saling memberi kesempatan satu sama lain.

Kita juga tidak mudah menyalahkan orang lain, pak polisi dan sebagainya. Sebaliknya kita akan mudah sekali berprasangka baik pada orang lain. Bila ada yang mendahului atau mengambil jalan kita, kita berprasangka baik bahwa yang bersangkutan ada urusan yang lebih penting sehingga harus mendahului kita. Meskipun jalan tersendat, kita juga berprasangka baik pada pak polisi yang sudah berusaha maksimal – hanya memang kondisi terbatas sehingga semua harus bersabar. Kita tidak perlu mengomel dan ngedumel nggak karuan yang tidak menyelesaikan masalah, sebaliknya kita tebarkan senyum pada pengendara lain dan kepada pak polisi, maka dengan inilah jalanan yang panas akan menjadi sejuk oleh karenanya.

Bayangkan kalau kita bisa melaksanakan kebaikan tersebut di jalan, maka insyaallah kita akan bisa pula melaksanakan kebaikan ini dalam bisnis yang kita tekuni, dalam lapangan politik yang kita terlibat di dalamnya – pendek kata dalam berbagai bidang kehidupan kita. Mengapa demikian mudah ?, lagi-lagi karena yang menggerakkan kebaikan ini sumbernya sama; yaitu keimanan kita yang meyakini bahwa “tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula”.

Indahnya hidup di dalam suatu negeri yang penduduknya beriman ini juga dijanjikan oleh Allah – yang sekali lagi pasti benarnya – dalam ayat berikut : “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (QS 7 :96).

Jadi yang membuat kita hidup aman tenteram dan peroleh banyak kebaikan ini adalah kalau keimanan tumbuh pada diri kita dan juga masyarakat kita; maka tempat-tempat dimana keimanan diajarkan dan dikuatkan seperti di masjid-masjid, pesantren-pesantren, majlis-majlis ilmu seharusnya menjadi harapan akan trurunnya berkah dari langit dan dari bumi seperti yang dijanjikan di ayat tersebut diatas.

Sebaliknya bila tempat-tempat tersebut menjadi tempat yang dicurigai, di cibir dan dihambat perkembangannya – maka kita tidak bisa berharap banyak tumbuhnya keimanan ini. Kalau keimanan tidak ada atau tidak membaik, maka akan sangat sulit kebaikan akan tumbuh – lha wong tidak kita tanam kok, darimana akan tumbuh ? darimana kita bisa berharap akan ada balasan kebaikan pula ?.

Dalam kondisi diri dan masyrakat kita dewasa ini; justru gerakan moral yang sangat perlu kita sebar luaskan adalah gerakan untuk berbuat baik yang di landasi oleh keimanan; inilah solusi atas segala masalah yang kita hadapi. Kalau Obama menang dengan semboyannya Yes We Can; kemudian negeri ini juga pingin bangkit dengan semboyan Indonesia Bisa – maka saya ingin seluasnya mengajak pembaca untuk menebarkan perbuatan baik pada diri kita masing-masing, keluarga kita dan masyarakat dimana kita berada. Kalau toh perlu semboyan untuk membangkitkan perbuatan baik ini, mungkin semboyan yang pas adalah BERBUAT BAIK, KITA BISA…!. Insyaallah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silakan masukkan komentar dan pertanyaan anda disini

Disclaimer

Meskipun seluruh tulisan dan analisa di blog ini adalah produk dari kajian yang hati-hati dan dari sumber-sumber yang umumnya dipercaya di dunia bisnis, pasar modal dan pasar uang; kami tidak bertanggung jawab atas kerugian dalam bentuk apapun yang ditimbulkan oleh penggunaan analisa dan tulisan di blog ini baik secara langsung maupun tidak langsung.

Menjadi tanggung jawab pembaca sendiri untuk melakukan kajian yang diperlukan dari sumber blog ini maupun sumber-sumber lainnya, sebelum mengambil keputusan-keputusan yang terkait dengan investasi emas, Dinar maupun investasi lainnya.