DINAR Emas memiliki 3 fungsi : Sebagai alat tukar, timbangan yang adil dan perlindungan Nilai. Dinar Emas untuk membangun ketahanan ekonomi dan memakmurkan ummat, tetapi tidak untuk ditimbun

Dasar/Hadits Diperbolehkannya Perdagangan Dinar (Emas)

Hadits Riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibn Majah, dengan teks Muslim dari ‘Ubadah bin Shamit, Nabi Muhammad SAW bersabda : “ (Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (dengan syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai ”

Pergerakan Harga Dinar 24 Jam

Dinar dan Dirham

Dinar dan Dirham
Dinar adalah koin yang terbuat dari emas dengan kadar 22 karat (91,7 %) dan berat 4,25 gram. Dirham adalah koin yang terbuat dari Perak Murni dengan berat 2,975 gram. Khamsah Dirham adalah koin yang terbuat dari Perak murni dengan berat 14,875 gram. Di Indonesia, Dinar dan Dirham diproduksi oleh Logam Mulia, unit bisnis dari PT Aneka Tambang, Tbk, dan oleh Perum PERURI ( Percetakan Uang Republik Indonesia) disertai Sertifikat setiap kepingnya. Dinar dan Dirham saat ini belum diakui secara resmi oleh Pemerintah sebagai alat tukar, sehingga pengenalan kembali Dinar dan Dirham di kalangan umat, digunakan pendekatan sebagai bentuk investasi/tabungan dan pelindung aset/harta umat. Dinar sebagai mata uang yang berasal dari Dunia Islam, sepanjang sejarah telah terbukti memiliki daya beli yang stabil lebih dari 1400 tahun. Dinar dapat digunakan sebagai investasi/tabungan jangka menengah/panjang, sangat cocok untuk rencana jangka panjang seperti menunaikan ibadah haji, biaya pernikahan anak, biaya sekolah anak, biaya membeli/perbaikan rumah, warisan (Islam melarang kita meninggalkan keturunan yang lemah) dan lain sebagainya. Beban biaya dan kebutuhan hidup yang semakin berat memang tidak terasa ... dengan asumsi inflasi 7,5 % per tahun saja, biaya hidup kita dalam Rupiah akan meningkat lebih dari 100 % dalam 10 tahun mendatang. Kekuatan khasanah keadilan mata uang Dinar dapat dimanfaatkan untuk melindungi aset/harta kita dari kehancuran/penurunan nilai uang seperti yang pernah terjadi di Indonesia, yaitu Sanering Rupiah tahun 1965 dan Krisis Moneter tahun 1997-1998.

21 Februari 2015

Penuhi Tabunganmu dengan Dinar

Oleh : Endy Kurniawan

Dengan bahan instrinsik emas, Dinar bertabiat sama dengan emas itu sendiri. Nilainya tetap sejak jaman Rasulullah SAW 14 abad yang lalu, yakni 1 Dinar mampu membeli seekor kambing hingga saat ini. Ini juga sejalan dengan fakta sejarah dimana emas dalam kondisi naik dan turun yang seimbang dengan pergerakan harga seluruh komoditas utama di muka bumi, seperti minyak dan bahan pokok lain.

Sebagaimana hadits Rasulullah SAW : “Ali bin Abdullah menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Syahib bin Gharqadah menceritakan kepada kami, ia berkata : Saya mendengar penduduk bercerita tentang ‘Urwah, bahwa Nabi SAW memberikan uang satu Dinar kepadanya agar dibelikan seekor kambiing untuk beliau; lalu dengan uang tersebut ia membeli dua ekor kambing, kemudian ia jual satu ekor dengan harga satu Dinar. Ia pulang membawa satu Dinar dan satu ekor kambing, Nabi SAW mendoakannya dengan keberkatan dalam jual belinya ‘seandainya Urwah membeli tanah pun, ia pasti beruntung” (HR Bukhari)

Interpretasi sederhana hadits diatas adalah bahwa tak mungkin Rasulullah SAW yang adil memberikan bekal uang yang tak mencukupi untuk membeli 1 ekor kambing. Beliau tahu harga pasar untuk seekor kambing adalah 1 Dinar. Urwah adalah orang yang cakap berdagang, sehingga dia bisa mendapatkan 2 ekor kambing dengan 1 Dinar itu, kemudian menjual kembali 1 kambing tersebut dengan harga 1 Dinar. Jadi seharusnya 1 Dinar akan habis untuk membeli 1 kambing, Urwah malah membawa 1 kambing dan 1 Dinar. Itu sebabnya Rasul SAW memuji dan mendoakan kemampuannya dalam berdagang itu.

Umat Islam sendiri mungkin telah lalai dengan catatan emas masa lalunya, termasuk di dalamnya kedigdayaan ekonomi yang ditopang oleh Dinar sebagai alat tukar. Sejak jaman Nabi Muhammad SAW hingga Dinasti Ustmani tak sampai seabad lalu, Islam hanya mengenal uang emas dan perak, uang kertas tak dikenal sama sekali. Uang kertas yang ada sekarang bukanlah produk peradaban Islam. Karena itu, wajar apabila terjadi krisis di mana-mana.

Dinar dan Dirham pada jaman Rasulullah telah mulai digunakan meski tak ada standarisasi bentuk dan cetakannya, dan digunakan untuk transaksi dengan nilai yang sama dengan barang yang dijual belikan. Pada jaman khalifah Umar ibn Khattab, Dirham yang diadopsi dari Persia dan Dinar dari Romawi kemudian dicetak secara khusus sebagai unit of account oleh negara, dengan standar yang kita kenal hingga sekarang yaitu : Dinar Emas adalah 4,25 gram emas 22 Karat dan Dirham adalah perak murni dengan berat 2,975 gram.

Dengan berbagai pasang surut, Dinar dan Dirham digunakan dalam silih bergantinya kehalifahan Islam. Dan ekonomi di negeri-negeri Islam berjalan baik. Bahkan pada tahun 774, Inggris menggunakan mata uang pertamanya yang merupakan jiplakan langsung dari Dinar Islam lengkap dengan tulisan LAA ILAAHA ILLALLAH, MUHAMMAD RASULULLAH, kecuali ada tulisan OFFA REX pada satu sisinya. Waktu itu Inggris dipimpin Raja Offa. Inilah fase ketika Islam menjadi cahaya penerang bangsa-bangsa, seluruh konsep ekonomi diadopsi mentah-mentah oleh barat.

Hingga babak terakhir berkuasanya peradaban Islam misalnya, dunia masih mencatat bahwa Kekhalifahan Turki Ustmani yang berdiri sejaman dengan Inggris sebagai wakil dunia barat, lebih mampu mempertahankan stabilitas harga. Ini jelas membuktikan bahwa selain sistem ekonomi yang bebas riba, mata uang yang yang dipakai dunia Islam yaitu Dinar (emas) dan Dirham (perak) memiliki stabilitas daya beli yang baik.

Dengan demikian, hijrah kembali ke Dinar dan Dirham saat ini bisa bermakna ganda, yaitu secara ekonomis maupun secara dakwah, karena ada kepentingan syiar Islam di dalamnya.

Pertama, secara ekonomis, karena emas yang menjadi kandungan utama Dinar maupun perak untuk Dirham adalah logam berharga dan mulia, sehingga memiliki atau menyimpannya berarti investasi dengan mengharapkan berlipatnya nilai keuntungan, sekaligus hedging / melindungi nilai harta kita dari kikisan virus-virus keuangan seperti inflasi dan turunnya nilai tukar terhadap mata uang asing. 

Kedua, kepentingan dakwah / syiar, karena bagian dari upaya kembali ke kemurnian dan keaslian Islam itu sendiri. Menyimpan harta dalam bentuk Dinar dan Dirham adalah bagian dari persiapan menyambut kembalinya kejayaan Islam, dengan praktek-praktek ekonomi yang syar’i di dalamnya. Salah satunya adalah penggunaan Dinar dan Dirham sebagai alat tukar.

Sembari menyambut datangnya waktu suatu saat nanti Dinar menjadi alat tukar (medium of exchange), maka sekarang yang bisa kita lakukan adalah menjadikan Dinar sebagai unit of account dan store of value.

30 Desember 2014

Mungkinkah Uang Kertas Punah? (2)

Oleh : @endykurniawan

Kabar baik bagi kita adalah dari seluruh emas yang telah ditambang di muka bumi yakni sekitar 150.000 – 160.000 ton, 70% – 90% dikuasai swasta, termasuk individu/ perorangan. World Gold Council menyebut angka sekitar 100.000 ton emas dikuasai swasta, pada 2005. Sementara sisanya dikuasai oleh 109 negara sebagai cadangan di bank sentral-nya. Laporan lembaga yang sama pada September 2010 menyebutkan jumlahnya sekitar 27.000 ton. Sebagaimana tulisan pada bagian pertama, penguasaan mayoritas stok emas dunia oleh non-pemerintahan ini adalah salah satu sebab mengapa kembalinya gold-standard sebagaimana era Bretton Woods diprediksi sulit terwujud. Menurut Martin Wolf, analis ekonomi senior The Financial Times, proses akuisisi emas masyarakat ini akan memakan berbagai macam biaya yang luar biasa dan bisa menimbulkan kekacauan.

Jauh lebih mungkin, jika saatnya tiba, terjadi pertukaran langsung emas-emas simpanan masyarakat untuk transaksi sehari-hari. Jumlah 100.000 ton yang beredar adalah jumlah yang sangat banyak. Seandainya pun tak dalam bentuk koin yang standard, masyarakat cukup menggunakan emas dalam bentuk apapun, disertai timbangan untuk pengukur berat. Praktek ini sebagaimana jaman awal Rasulullah SAW bertransaksi menggunakan emas, alat transaksinya adalah emas dalam berbagai bentuk (koin, lempengan/ tibr) dan telah mencukupi. Kita tahu, emas adalah bahasa transaksi universal. Kita pernah bahas sebelumnya, salah satu item survival kit pilot tempur Amerika adalah sepotong emas. Kawan saya Ahmad Gozali, ketika sesi workshop investasi emas sering menyampaikan penggalan sebuah film dengan setting di sebuah negara komunis. Prajurit Amerika yang perlu tumpangan tak bisa membayarnya dengan US Dollar karena penduduk setempat tak tertarik mata uang asing itu. Tapi deal terjadi setelah si agen bersedia membayarnya dengan jam tangan terkenal berlapis emas.

Selama 1500 tahun kejayaan Islam menerangi bumi, ekonomi kekhalifahan berada di standar yang sangat tinggi. Bahkan menjelang rapuh dan runtuhnya kekhalifahan Turki Ustmani sekalipun, indeks harga dan kesejahteraan warga negaranya masih lebih baik dari Inggris yang berdiri sejaman. Kemanapun reformasi moneter ini membawa nanti, kita perlu bersiap diri dari kini. Perhatikan grafik 10 besar penguasa emas dunia pada gambar. Dari 10 negara yang memiliki cadangan emas terbesar, hanya 3 negara yaitu China, Rusia dan Amerika sendiri yang juga merupakan 10 besar negara penghasil emas. Selebihnya adalah negara-negara barat non-produsen emas, yang dengan disiplin dan kesadaran penuh, mereka tahu tapi diam-diam saja, justru menyimpan harta hakiki itu dalam dekapan negaranya, meskipun dalam keseharian mereka terlihat sibuk mengkampanyekan anti-gold standard.

Kita juga bisa menyimpulkan satu hal yakni kecilnya kesadaran negara-negara penghasil emas utama untuk mempertahankan emas yang ditambang dan diolah di negaranya sendiri, sehingga tak cukup menyimpan untuk pertahanan ekonomi negaranya. Mereka memilih untuk menjadi penambang dan eksportir, tapi tak menjadikan emas sebagai cadangan ekonomi negaranya, kecuali sedikit saja. Negeri ini seharusnya memberi penghargaan kepada masyarakat yang secara individual berupaya menyimpan emas di rumah tangganya masing-masing, yang jika dijumlahkan akan menghasilkan angka simpanan emas yang sangat besar dan mengindikasikan ketahanan ekonomi riil masyarakat Indonesia.

Seandainya warga negara yang hidup di atas ambang kemiskinan (artinya secara ekonomi cukup mampu) yaitu 70% dari total penduduk Indonesia memiliki 1 gram emas, maka jumlah emas minimal yang dimiliki rakyat Indonesia berjumlah 168 ton. Angka ini telah 2 kali lipat lebih dibanding cadangan emas yang dimiliki bank sentral. Seandainya 1 orang menguasai 1 Dinar (emas dengan berat 4.25 gram), maka cadangan emas yang berada di kantung masyarakat Indonesia berjumlah 714 ton. Dijumlahkan dengan cadangan devisa Bank Indonesia yang sekitar 75 ton, maka Indonesia akan berada di posisi ke-8 penyimpan emas mengalahkan Jepang.

Sosialisasi penguasaan emas ke tangan masyarakat ini, bagi saya pribadi, adalah upaya pertahanan sekaligus persiapan menyongsong masa depan. Pertahanan untuk melindungi harta dan asset masyarakat. Persiapan masa depan untuk sebuah reformasi (mungkin juga revolusi, perubahan radikal) sistem moneter dunia dengan medium emas, juga perak. Seluruh negara dan masyarakat negara lain, secara terbuka maupun diam-diam melakukannya dengan penuh kesadaran. Sebagai negara dengan cadangan emas melimpah, mengapa kita tidak melakukan hal serupa? Dengan jumlah cadangan emas yang memadai, ekonomi negeri kita punya sandaran hakiki, layak adu tanding dengan dengan negara-negara ekonomi kuat lainnya. Ini jadi modal yang cukup untuk menopang prediksi banyak riset yang menunjukkan Indonesia akan berada dalam posisi 10 besar ekonomi terkuat dunia pada 2020 dan 5 besar pada 2030.

19 Desember 2014

Mungkinkah Uang Kertas Punah? (1)

Oleh : endykurniawan

Berapa banyak uang beredar di muka bumi? Laporan McKinsey Global Institute pada 2008 menyebut angka USD 61.000 Trilyun. Berapa nilai emas yang ada di muka bumi? Sekitar USD 1.300 Trilyun. Tak di-mention dengan rupiah karena sulit menuliskan satuannya. Terlalu panjang angka nolnya. Dua angka tersebut membawa kita ke masa 1944 – 1971 dimana Gold Standard diberlakukan dengan payung Bretton Woods Agreement. Kala itu dimana 35 Dollar yang dicetak/dikeluarkan bank sentral Amerika haruslah dengan backup 1 troy ounce emas, uang yang beredar adalah kurang lebih sama dengan nilai emas yang ada di bank sentral di seluruh dunia.

Yang terjadi sekarang adalah jumlah uang kertas telah dicetak 46 kali lebih banyak dari yang seharusnya (USD 61.000 Trilyun dibagi nilai emas USD 1.300 Trilyun). Inilah makna FIAT MONEY itu, uang kertas dicetak sangat banyak, suka-suka, tanpa mencerminkan jumlah kekayaan atau asset riil berupa emas yang dimiliki negara-negara yang disimpan bank sentral masing-masing. Akibatnya adalah keuntungan dinikmati si pencetak reserved currency (USD). Stagnansi ekonomi yang mereka alami, sebagaimana terjadi sekarang dimana produksi dan konsumsi dalam negerinya mandeg, yang kemudian membuat mereka mencetak uang baru, hanya (mungkin) menguntungkan di sisi mereka. Mungkin, karena belum tentu stimulus ini berhasil mengangkat ekonomi dalam negerinya. Yang justru pasti adalah seluruh negara berlomba menurunkan nilai mata uangnya demi bisa bersaing untuk pasar ekspornya. Yang pasti lagi adalah membuka kemungkinan hyperinlasi terjadi di negara-negara berkembang yang tak tahu menahu, bahkan mungkin tak terlibat awalnya dengan pertarungan ekonomi tingkat tinggi tersebut. Yang jadi korbannya adalah kesejahteraan masyarakat di negara berkembang, karena hyperinlasi berarti menurunnya daya beli uang simpanan mereka sebanyak 2 digit persen.

Selain itu, biaya 4 sen Dollar (atau 0.04 Dollar) untuk mencetak setiap lembar USD itu pun bermakna perampokan. Stempel berapapun bisa dicantumkan di lembaran uang kertas, lalu dibuat untuk membeli lebih banyak asset di negara-negara miskin atau berkembang. Untuk membeli sebuah perusahaan teknologi di Indonesia dengan nilai Rp 5 Trilyun, hanya perlu mencetak uang pecahan USD sebanyak 5,61 juta lembar dengan biaya 4 sen x 5,61 juta = USD 22 juta sen, atau sama dengan USD 220.000. Disini praktek SEIGNORAGE bekerja. Untuk membeli perusahaan senilai Rp 5 Trilyun, produsen USD hanya perlu Rp 1,9 Milyar biaya cetak uang.

Data tentang nilai uang riil (yaitu emas) vs nilai uang (kertas) yang ada sekarang itulah yang membuat banyak ekonom meragukan Bretton Woods jilid II yang diwacanakan Robert Zoellick, mantan bos World Bank, mustahil terlaksana. Karena jumlah uang beredar sudah sedemikian besar melebihi yang seharusnya, implementasi Gold Standard Currency seperti pernah dipraktekkan dulu akan membawa kompleksitas sistem global. Simpanan setiap bank sentral juga tak seimbang. Semenjak Perang Dunia I, Amerika lah yang menyimpan emas paling banyak. Dengan situasi ini, harus ada negara yang rela seluruh harga barangnya naik. Di sisi lain, harus ada sebagian negara yang harus bersedia seluruh harganya diturunkan. Reposisi dan keseimbangan baru itu akan berbiaya sosial sangat besar, melibatkan seluruh negara dan masyarakat di dalamnya.

Salah satu sebab lain Bretton Woods sulit dijalankan adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh bank sentral untuk mengumpulkan emas domestik maupun internasional (sebagai backup pencetakan uang dengan standar emas) akan sangat besar. Dengan sistem ini, maka pemilik emas akan menjual emasnya kepada bank sentral, yang jelas memerlukan lebih banyak backup untuk pencetakan uang baru. Biayanya akan sangat besar, dan karena permintaan meningkat drastis, harga emas akan melonjak sangat tinggi. Ujungnya, pemilik emas bisa menilai harga yang ditetapkan tak setinggi yang seharusnya dan mereka memilih menyimpan saja emas-emas yang telah dimiliki. Wajar, karena sejak semula, emas adalah penakar nilai dan alat tukar yang universal, maka penyimpan emas merasa lebih safe dan untung jika menyimpan emas untuk melindungi asetnya juga untuk membeli barang kebutuhan. Pada titik ini terjadi kekacauan dan orang tak memerlukan lagi uang kertas, dan dunia kembali pada masa dimana emaslah yang menjadi alat transaksi. Inilah masa pada periode dengan rentang 1.500 tahun semenjak Dinar dan Dirham ditetapkan khalifah Umar ibn Khattab hingga runtuhnya kedaulatan Islam pada masa Turki Ustmani.

Uraian diatas dituliskan dengan gamblang oleh Martin Wolf, kontributor The Economist, seorang Profesor di University of Nottingham yang juga Chief Economics Commentator di Financial Times – London. Pada sebuah tulisannya, ia mengutip juga pernyataan Bennett McCallum dari Carnegie Mellon University yang menyatakan bahwa kesadaran kembali ke alat tukar berupa emas (sebagaimana pada tahun-tahun sebelum 1930-an) diawali dengan tingkat pemahaman agama/ religiusitas yang cukup tinggi. Karena hanya ajaran agama saja yang memberikan penjelasan bahwa “nilai emas tidak pernah berubah, ia tetap dan terjaga selamanya’ (the price of gold should not be varied but should maintained, forever).

15 Juli 2014

Uang Baru dan Pemerintahan Baru

Siapapun yang akhirnya nanti menggantikan pemerintahan yang sekarang akan disambut dengan uang yang baru. Uang yang baru ini akan secara tegas menyebutkan bahwa ini adalah uang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang ditanda tangani oleh Gubernur BI dan Menteri Keuangan, selama ini uang kita bukan uang NKRI tetapi uang Bank Indonesia.  Yang lebih serius dari ini adalah dalam periode pemerintahan yang akan datang – besar kemungkinan redenominasi mata uang Rupiah harus dilakukan.

RUU untuk redenominasi Rupiah ini sebenarnya sudah disampaikan pemerintah ke DPR  dan bahkan seharusnya masuk prioritas Prolegnas tahun 2013, namun karena redenominasi yang akan mengurangi tiga angka nol pada uang kita tersebut juga beresiko – maka pembahasannya nampaknya ditunda.

Resiko ini diungkapkan bahkan oleh menteri keuangan Republik Indonesia sendiri melalui situs resmi Departemen Keuangan, apabila gagal rencana redenominasi tersebut akan berdampak terhadap inflasi yang akan menjadi tingggi . “ Ada resiko inflasi. Kalau situasinya sudah lebih baik mungkin (redenominasi Rupiah) bisa dilakukan” ujar Menkeu.

Pertimbangan faktor resiko inilah antara lain yang membuat wacana redenominasi yang sudah ramai dibicarakan dalam lima tahun terakhir urung dilaksanakan. Tetapi ini seperti bom waktu yang diteruskan dari satu pemerintahan ke pemerintahan berikutnya, suatu saat harus ada yang berani mengambil keputusan.

Redenominasi mestinya sudah harus dilakukan di akhir 90-an ketika  kurs Rupiah melewati angka Rp 10,000. Dampak dari angka nol yang terlalu banyak ini menimbulkan masalah di system IT bukan hanya di perbankan dan lembaga keuangan di Indonesia , tetapi juga di seluruh dunia yang mengakomodasi mata uang Rupiah.

Angka nol yang terlalu banyak juga memberi kesan ‘kurang bernilainya’ mata uang Rupiah ini di mata internasional. Rupee-nya India mestinya sama saja kekuatannya dengan Rupiahnya Indonesia, tetapi karena 1 Rupee nilainya hampir Rp 200 ,- maka seolah Rupee lebih kuat atau lebih berharga dari Rupiah.

Angka nol yang terlalu banyak – yang kemudian perlu dipotong juga menjadi karakter dari negeri-negeri yang mempunyai problem dengan nilai mata uangnya. Kita bisa tahu ini dari negara-negara lain yang pernah mengalaminya seperti  Islandia (1991), Rusia (1998), Meksiko (1993), Polandia (1995), Ukraina (1996), Peru (1991) , Bolivia (1987) dan yang fenomenal Turki (2005) dan Zimbabwe (2009).

Ketika Turki berani melakukan redenominasi mata uangnya lira tahun 2005 lalu, mereka tidak tanggung-tanggung harus membuang enam angka nolnya. Angka 1,000,000 lira menjadi 1 lira saja. Ini harus dilakukan Turki untuk merespon tingginya angka inflasi selama 35 tahun (1970-2005), sehingga mau tidak mau harus mereka lakukan bila tidak ingin angka nol di mata uangnya menjadi semakin terlalu banyak.

Kadang angka nol yang harus dihapus itu begitu banyaknya sehingga mata uang yang lama harus diganti sama sekali karena sudah tidak relevan lagi. Contohnya adalah yang terjadi di Zimbabwe (2006-2009), ketika mata uangnya yang tetap bernama Zimbabwean Dollar tetapi secara bertahap berganti singkatan dari semula ZWD ke ZWN kemudian ke ZWR sebelum akhirnya menjadi ZWL. Bersamaan dengan pergantian singkatan ini pula 9 angka nol dihilangkan.

Intinya adalah pada suatu titik, pemerintah harus berani melakukan redenominasi itu bila memang harus dilakukan. Dia tidak bisa meneruskan problem kebanyakan angka nol ini terus menerus ke pemerintahan berikutnya dan berikutnya lagi.

Ekonomi mungkin terganggu sesaat oleh gejolak inflasi, tetapi setelah itu akan banyak manfaatnya bagi kita semua. Kita akan bangga misalnya ketika menukar uang Rupiah kita di Mekah atau Madinah dari setiap Rp 3 kita sudah mendapatkan 1 Saudi Riyal, tidak seperti saat ini 1 SAR harus kita tebus dengan Rp 3,122 !

Dari waktu ke waktu nilai tukar mata uang Rupiah negeri manapun akan cenderung terus menurun, ada yang penurunannya drastis sehingga harus di-redenominasi dan ada yang penurunannya biasa-biasa saja. Mata uang kertas juga menjadi instrumen untuk perang dagang seperti yang terjadi antara Amerika Serikat dan China.

Maka tidak bisa lagi kita mengukur kekuatan mata uang Rupiah kita dengan Dollar misalnya. Bulan Juli 1998 US$ 1 = Rp 14,000; bulan Juli 2014 ini US$ 1 = Rp 11,700. Apakah berarti uang Rupiah kita saat ini jauh lebih kuat dari Juli 1998 ? Ternyata tidak sama sekali.

Ini bisa kita lihat kalau uang tersebut dipakai untuk membeli benda riil yang baku harganya sepanjang zaman seperti emas misalnya. Untuk membeli 1 gram emas dibutuhkan sekitar Rp 130,000 pada bulan Juli 1998, dan di bulan Juli 2014 ini kita butuh sekitar Rp 500,000 untuk bisa membeli 1 gram emas yang sama.

Kita bisa melihat sekarang bahwa meskipun seolah Rupiah menguat dibandingkan mata uang Dollar selama era reformasi hingga kini, namun daya belinya terus menurun tinggal sekitar ¼-nya saja sejak puncak krisis 1998.  Artinya bahkan terhadap puncak krisis 1998 tersebut daya beli riil uang kita sekarang jauh lebih lemah lagi !

Bayangkan sekarang realitas bahwa mayoritas asset pegawai tersimpan di Rupiah dalam berbagai bentuknya, mulai dari tabungan, deposito, tunjangan hari tua, asuransi dlsb. Bila dalam perjalanan karir Anda 16 tahun terakhir saja daya beli riil uang Anda tinggal ¼-nya, apa yang akan terjadi ketika Anda pensiun 16 tahun yang akan datang ?

Maka tidak berlebihan bila situs ini mengkampanyekan proteksi nilai sejak 7 tahun lalu, karena serendah-rendahnya harga emas atau Dinar seperti sekarang ini – dia tetap mampu memberikan perlindungan nilai jangka panjang hingga kini. Justru periode harga rendah seperti inilah sebenarnya memberi kesempatan kita untuk melakukan proteksi nilai secara lebih baik dengan menambah portfolio emas atau Dinar kita.

Uang baru dan bahkan redenominasi bisa saja menjadi isu sesaat, tetapi yang lebih hakiki sebenarnya adalah upaya untuk mempertahankan daya beli dari hasil jerih payah kita. Bila redenominasi adalah domain pemerintah dan kita tinggal menerima realita dan dampaknya, tidak demikian dengan isu proteksi nilai atau upaya mempertahankan daya beli ini – kita dapat melakukannya sendiri sekarang dan disini ! Insya Allah.

11 Juli 2014

The Death of Money

Judul tulisan ini saya ambilkan dari buku yang terbit sekitar tiga bulan lalu karya penulis best seller James Rickards. Judul lengkap buku tersebut adalah The Death of Money – The Coming Collapse of The International Monetary System. Menurut si penulis ini system moneter internasional telah gagal setidaknya tiga kali sepanjang abad lalu yaitu tahun 1914, 1939 dan 1971. Sedangkan kegagalan berikutnya dia katakan sebagai maelstrom to come – peristiwa yang cepat sekali datangnya !

Kegagalan system moneter tahun 1914 di-trigger  oleh Perang Dunia I yang kemudian diikuti oleh hyperinflation dan depression  antara tahun 1919 sampai 1922. Kegagalan tahun 1939 juga disebabkan oleh perang yaitu Perang Dunia II dan baru sembuh ketika dunia menyepakati Bretton Woods Systems di akhir PD II – ketika system keuangan dunia dikaitkan langsung dengan emas.

Kegagalan ketiga adalah ketika tahun 1971 presiden Amerika Serikat waktu itu Richard Nixon mengumumkan bahwa sejak saat itu Amerika tidak lagi mengkaitkan uangnya dengan emas. Dampak dari pengingkaran Bretton Woods Systems – yang sebenarnya disponsori oleh Amerika Serikat sendiri ini – telah membuat Dollar sudah nyaris collapse tahun 1978.

Mirip dengan tiga kegagalan sebelumnya, menurut James Rickards ini kegagalan keempat akan melibatkan perang, emas dan chaos. Lantas apa penyebabnya ? Selain perang fisik yang melibatkan Amerika Serikat di sejumlah negara-negara lain, kegagalan keempat juga akan di-trigger oleh currency wars, deflation, hyperinflation dan market collapse.

Kegagalan Dollar juga berarti kegagalan system moneter dunia karena sampai saat ini Dollar adalah reserve currency – mata uang yang juga digunakan sebagai cadangan devisa bagi seluruh negara di dunia – termasuk Indonesia. Kegagalan system moneter di dunia atau proses menuju ke-kegagalan itupun sudah cukup untuk apa yang disebut money and wealth detachment – perpisahan antara uang dan kemakmuran.

Kita yang di Indonesia sejak kemerdekaan RI 69 tahun silam juga sudah pernah mengalami satu kali kegagalan yaitu ketika kita harus melakukan sanering di tahun 1965/1966, kemudian juga sekali nyaris gagal ketika nilai tukar kita merosot tinggal 1/6-nya di puncak krisis 1998 – yang kemudian tidak sepenuhnya sembuh hingga kini – ketika daya beli uang kita tinggal kurang dari ¼ dibandingkan dengan era sebelum krisis moneter 1997/1998.

Perpisahan antara uang dan kemakmuran juga sudah lama terjadi di negeri ini. Hal ini dengan mudah bisa kita lihat dari bahasa yang kita gunakan ! Dahulu istilah jutawan adalah untuk menyebut orang yang makmur dengan memiliki harta satu juta atau lebih. Jutawan saat ini – orang yang memiliki uang satu juta atau lebih – masih berhak atas zakat kecuali setidaknya mencapai 40 kalinya (nishab zakat 20 Dinar sekitar Rp 40 juta).

Ketika terjadi perpisahan antara uang dan kemakmuran, kita tidak lagi bisa mengandalkan uang dan produk-produk turunannya seperti tabungan, dana pensiun, asuransi dlsb. sebagai instrument untuk menyimpan atau sekedar mempertahankan kemakmuran kita. Lantas apa yang bisa ?

Yang bisa menyimpan atau mempertahankan kemakmuran  adalah benda-benda riil seperti emas (di kita berarti juga Dinar), tanah, rumah, ternak, tanaman dlsb. Dari sini pulalah kita sekarang dengan mudah memahami hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berikut :

Dari Abu Said Al-Khudri berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Waktunya akan datang bahwa harta muslim yang terbaik adalah domba yang digembala di puncak gunung dan tempat jatuhnya hujan. Dengan membawa agamanya dia lari dari beberapa fitnah (kemungkaran atau pertikaian sesama muslim)”. (H.R. Bukhari)

Sebenarnya inilah yang sedang kita lakukan sejak setidaknya tujuh tahun terakhir, yaitu berusaha sekuat tenaga untuk bisa menghidup-hidupkan kembali peradaban Islam yang semuanya memiliki dasar yang kuat dari Al-Qur’an maupun hadits.

Kita memiliki cara-cara sendiri dalam mengelola urusan dunia kita - yang sebenarnya hanya jalan untuk sampai pada kehidupan yang hakiki setelah ini. Di semua aspek kehidupan, cara kita sendiri ini benar adanya – mulai dari mengelola moneter, kesehatan, pendidikan, pertanian dlsb. dlsb.

Maka sebelum pusaran kegagalan system moneter internasional itu menarik kita ke dalamnya – menarik kita terjerembab ke dalam lubang biawak mereka, kita harus dengan sekuat tenaga dan secepatnya bangun dari tidur lama kita – bangun untuk mulai menghidup-hidupkan peradaban kita sendiri. InsyaAllah

Disclaimer

Meskipun seluruh tulisan dan analisa di blog ini adalah produk dari kajian yang hati-hati dan dari sumber-sumber yang umumnya dipercaya di dunia bisnis, pasar modal dan pasar uang; kami tidak bertanggung jawab atas kerugian dalam bentuk apapun yang ditimbulkan oleh penggunaan analisa dan tulisan di blog ini baik secara langsung maupun tidak langsung.

Menjadi tanggung jawab pembaca sendiri untuk melakukan kajian yang diperlukan dari sumber blog ini maupun sumber-sumber lainnya, sebelum mengambil keputusan-keputusan yang terkait dengan investasi emas, Dinar maupun investasi lainnya.