Pergerakan Harga Dinar 24 Jam

Dinar dan Dirham

Dinar dan Dirham
Dinar adalah koin yang terbuat dari emas dengan kadar 22 karat (91,7 %) dan berat 4,25 gram. Dirham adalah koin yang terbuat dari Perak Murni dengan berat 2,975 gram. Khamsah Dirham adalah koin yang terbuat dari Perak murni dengan berat 14,875 gram. Di Indonesia, Dinar dan Dirham diproduksi oleh Logam Mulia, unit bisnis dari PT Aneka Tambang, Tbk, dan oleh Perum PERURI ( Percetakan Uang Republik Indonesia) disertai Sertifikat setiap kepingnya.

28 Oktober 2009

Daya Dorong Ekonomi dan Politik Global Pada Harga Emas ...

Di dunia perdagangan emas ( sebenarnya juga pada dunia perdagangan lainnya), tidak ada satu ahli-pun yang bisa memperkirakan dengan pasti akan kemana harga emas pada hari esuk. Yang bisa dilakukan hanyalah analisa terhadap apa-apa yang sudah atau sedang terjadi dan kemungkinan pengaruhnya untuk waktu yang akan datang.

Analisa statistik semacam ini sering saya buat dalam beberapa kali tulisan, seperti yang saya tulis yang kemudian menjadi salah satu tulisan favorit pembaca : Musim Membeli Emas/Dinar. Meskipun analisa statistik semacam ini terbukti relatif akurat untuk memprediksi pergerakan harga emas kedepan, ilmu masa depan tetap milik Allah semata.

Memprediksi harga emas dunia dalam pasar yang sangat global seperti di zaman teknologi ini menjadi semakin sulit karena tidak hanya faktor-faktor ekonomi saja yang mempengaruhi harga emas dunia; tetapi faktor politik tidak kalah pentingnya.

Untuk faktor ekonomi, kita tahu bahwa karena harga emas dunia umumnya dinilai dalam US$ - maka ekonomi negara Paman Sam tersebut sangat dominan perannya dalam harga emas dunia. Masalahnya adalah meskipun mereka mengajari dunia tentang keterbukaan dan tanggung jawab, realitanya ekonomi mereka sendiri tetap gelap.

Tingkat pengangguran resmi menurut data pemerintah dibawah 10 %; sedangkan salah satu orang pinter negeri itu John Williams menunjukkan data yang lain dalam Shadow Government Statistics (SGS), dimana angka pengangguran sesungguhnya mencapai 20 %. Contoh lain adalah inflasi yang menurut pemerintah angkanya hanya 2 %; menurut SGS angka inflasi ini sesungguhnya telah mencapai 6.5% di AS.

Entah siapa yang benar, tetapi yang jelas kenaikan harga emas dunia dalam US$ setahun terakhir yang telah mencapai 42.66% (data resmi Kitco.com pada saat artikel ini saya tulis 28/10/09) menunjukkan bahwa ada masalah yang sangat serius dalam US$ - yang berarti juga ekonomi Amerika.

Diluar masalah ekonomi tersebut diatas, tidak kalah pentingnya adalah faktor politik global yang saat ini menunjukkan potensi-potensi masalah di beberapa bagian dunia. Tendensi menyatunya sikap antara Russia, China dan Iran – dapat merubah keseimbangan kekuatan politik Dunia. Russia dan China sudah menyampaikan sikapnya ke Amerika bahwa mereka tidak setuju sangsi ekonomi terhadap Iran – atas non-compliance-nya Iran terhadap perjanjian nuklir dunia.

Dalam dunia politik, ketidak setujuan dua negara besar tersebut dapat berarti mereka akan berada di belakang Iran bila terjadi konflik antara Iran dengan sekutu Amerika. Sekutu Amerika Israel yang merasa terancam keamannya dengan adanya program nuklir Iran tersebut, bisa saja berbuat konyol dengan menyerang Iran – karena mereka toh sudah berbuat konyol sebelumnya dengan menyerang jalur Gaza.

Kemungkinan-kemungkinan gejolak regional tersebut tentu didak dikesampingkan oleh para pelaku usaha global – termasuk para pedagang dan investor emas besar dunia. Bukan masalah perangnya sendiri yang bisa terjadi dan bisa juga tidak, kekawatiran terhadap perang ini saja cukup untuk mendorong harga emas dunia keatas.

Semakin kawatir orang terhadap potensi perang, semakin tinggi harga emas akan terdorong keatas. Mengapa demikian ?, karena bila perang terjadi – uang kertas yang menjadi alat tukar masing-masing negara yang terlibat perang bisa sangat terganggu daya belinya – lihat yang terjadi dengan uang Iraq misalnya.

Memang dalam krisis Iraq, sepertinya Iraq dibiarkan sendirian oleh dunia sehingga dengan mudah dilluluh lantakkan oleh Amerika bersama para sekutunya. Akibatnya yang ikut luluh lantak hanya mata uang Iraq. Lain halnya bila konflik Iran pecah dan minimal Russia bersama China berada di pihak mereka, maka bisa jadi seluruh yang terlibat perang termasuk Amerika dan sekutunya, Russia, China dlsb. akan ikut luluh lantak uangnya.

Jadi kemana investasi kita untuk jangka waktu yang panjang ?, selain waspada pada perkembangan ekonomi, waspadai pula perkembangan politik dunia. Wa Allahu A’lam.


27 Oktober 2009

Long Term Investmen Focus : Dinar, Sapi atau Surga ... ?

Semalam harga emas dunia mengalami penurunan yang cukup significant, yaitu mencapai penurunan US$ 17/oz dari kisaran angka US$ 1,054/oz ke kisaran angka US$ 1,037/oz.

Bagi Anda yang baru membeli emas atau Dinar kemarin, mungkin akan ‘merasa rugi’ karena penurunan ini. Tetapi bagi Anda yang telah mulai membeli Dinar tahun lalu pada kisaran harga emas dunia US$ 800 –an /oz; tentu tidak akan merasakan penurunan harian ini sebagai kerugian; apalagi yang sudah mulai membeli Dinar dua tahun lalu di awal-awal kita memperkenalkan Dinar pada saat emas masih berada di kisaran US$ 700-an/oz.

Kita akan senantiasa merasa ‘rugi’ manakala investasi kita berorientasi jangka pendek. Bila orientasi kita jangka panjang, maka insyallah kita tidak akan pernah merasa rugi.

Untuk tataran investasi duniawi misalnya, perhatikan grafik di atas yang menunjukkan harga emas sejak awal tahun 70-an ketika pertama kalinya uang kertas mulai tidak dikaitkan lagi dengan harga emas dunia. Sejak saat itu harga emas dunia sudah berpuluh kali lipat mengalami kenaikan.

Demikian pula dengan investasi sektor riil yang disini saya ambilkan sapi sebagai contoh. Data dari Moore Research Center pada grafik dibawah menunjukkan trend kenaikan harga sapi hidup sejak awal tahun 1970-an hingga kini. Bisa dibayangkan bila Anda mulai membeli sapi tahun 70-an dan beranak setiap dua tahun…pasti sapi Anda sangat banyak saat ini, padahal setiap ekor sapi ukuran sedang harganya di kisaran 7 Dinar !.


Dengan contoh tersebut diatas, kita bisa melihat bahwa untuk standar dunia saja kita sudah dengan mudah ‘merugi’ bila fokus kita jangka pendek – dan sebaliknya kita tidak ‘merugi’ bila fokus investasi kita jangka panjang.

Analogi seperti investasi duniawi tersebut juga berlaku untuk investasi yang lebih panjang lagi – yaitu investasi untuk hidup yang abadi sesudah kita mati. Seluruh keuntungan atau kerugian yang kita alami di dunia ini, tidak akan sepadan bila dibandingkan dengan keuntungan/kerugian di akhirat kelak. Oleh karenanya, fokus investasi kita harus memiliki orientasi jangka waktu yang sangat panjang – meliputi dunia dan akhirat – bila kita tidak ingin merugi.

Lantas apakah dengan demikian kita harus membuat dikotomi mana untuk investasi dunia dan mana untuk investasi akhirat ?; tidak juga, karena dikotomi ini tidak perlu bila kita bisa menyelaraskan kehidupan dunia kita dengan tujuan jangka panjang kita yaitu hidup yang abadi di akhirat kelak. Bahkan salah satu do’a sapu jagad yang kita semua hafal adalah digabungkannya dua kebaikan ini yaitu kebaikan dunia dan kebaikan di akhirat.

Jadi bagaimana mengatur komposisi investasi kita agar bisa memperoleh dua kebaikan tersebut diatas ?. Saya pernah menulis Prinsip 1/3 Dalam Pengelolaan Harta dalam tulisan lalu, kalau prinsip ini bisa kita terapkan – maka insyallah kebaikan hidup di dunia dan di akhirat akan bisa kita peroleh secara bersama.

Bagaimana prakteknya ?, selain hasil investasinya yang sebagian kita sedekahkan – investasi kita haruslah di jalan yang dibenarkan secara syariah. Kita dapat investasikan harta kita untuk proyek-proyek yang memberi kemaslahatan umat secara luas, antara lain bisa dalam beberapa contoh berikut :

· Semilyar lebih manusia di dunia saat ini kelaparan, maka investasi untuk menghasilkan/meningkatkan produksi pangan dunia – insyaallah bila dengan niat yang lurus akan dapat bernilai ‘ memberi makan’ umat manusia secara luas. Contoh konkrit : menanam ketela unggul untuk bahan MOCAF (modified cassava flour) – produk ini insyaallah kelak akan menggantikan gandum yang berusaha memonopoli makanan dunia - padahal di negeri ini gandum ini tidak tumbuh.

· Generasi kita dan anak-anak kita adalah generasi yang salah minum dan salah makan; orang dewasanya minum minuman kaleng dan minuman botol dengan gula yang buruk bagi kesehatan, makanannya adalah makanan instant kering yang tidak mengandung kadar gizi yang memadai, anak-anaknya sejak bayi minum susu bubuk yang kita tidak tahu persis apa isinya. Maka investasi untuk memperbaiki pola makan dan pola minum ini, insyallah juga akan bernilai ‘meninggalkan generasi yang kuat’ kedepan.

· Begitu banyak negeri ini harus mengimpor barang-barang kebutuhan sehari-hari, maka investasi yang dapat meningkatkan pemenuhan kebutuhan penduduk negeri ini insyallah akan dapat ‘memerdekakan’ bangsa ini dari penjajahan sesama manusia.

· Puluhan juta orang menganggur di Indonesia saat ini, sementara banyak sekali peluang usaha ataupun peluang kerja yang tidak tertangani. Maka investasi dalam pendidikan/pelatihan kerja atau pelatihan wiraswasta yang bisa me-link-kan dunia kerja/usaha dengan sumber daya manusia yang ada – insyallah akan dapat menyebarkan kemakmuran secara luas.

· Dan masih banyak lagi peluang investasi yang bisa di –align – kan dengan tujuan hidup kita sesudah mati.

Tentu dalam berbagai investasi tersebut ada risikonya, namun dengan niat lurus insyallah risiko ini bersifat jangka pendek – karena niat yang baik-pun sudah mendapatkan pahala satu kebaikan. Meskipun demikian kita juga perlu meminimisasi risiko ini, agar bila investasi sector riil kita gagal – kita masih tetap bisa menyekolahkan anak, bisa membayar biaya kesehatan hari tua tanpa menjadi beban orang lain dan lain sebagainya – maka tidak juga salah bila sebagian saja harta kita yang kita gunakan untuk membangun ketahanan ekonomi dalam bentuk Dinar dan Dirham.

Jadi mana diantara tiga investasi tersebut yang kita pilih ?, kalau saya sih pinginnya bisa memilih ketiganya. Rabbana aatinaa fiiddunya hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ‘adhabannaar. Amin.

21 Oktober 2009

Emas Menuju Harga Tertinggi Yang Wajar ...

Di kala harga emas Dunia terus naik seperti dalam beberapa pekan terakhir; banyak yang menanyakan ke saya tentang sampai berapa tinggi harga emas ini di pasaran internasional nantinya. Jawaban saya tetap seperti yang saya tulis akhir tahun lalu dalam judul Prediksi Harga Emas Tahun 2009.

Memang namanya juga prediksi, sangat bisa jadi prediksi tersebut tidak tercapai – tetapi setidaknya inilah pendekatan yang cukup memiliki dasar dalam memperkirakan harga tertinggi emas dunia.

Bila dalam tulisan tersebut diatas saya menggunakan deret Fibonacci ; dalam tulisan ini saya menggunakan pendekatan Inflation Adjusted Price, yaitu harga emas tertinggi sekarang bila diperhitungkan dengan tingkat inflasi sejak tahun yang dijadikan rujukan. Saya gunakan tahun 1980 sebagai rujukan dan mata uang yang saya pakai US$ karena harga emas di pasaran internasional secara statistik yang sudah tersedia adalah menggunakan US$.

Anda bisa lihat dari gambar di atas; bahwa hasil pendekatan dengan menggunakan Inflation Adjusted Price – harga emas tertinggi tidak jauh berbeda dengan pendekatan deret Fibonacci dalam tulisan tersebut diatas yaitu dikisaran US$ 1,600 / oz.

Memang angka US$ 1,600 ini nampaknya berat untuk tercapai tahun ini karena tinggal dua bulan lagi dan sekarang masih di kisaran US$ 1,060 /oz; namun perhatikan jarak antara harga riil dengan harga yang disesuaikan dengan inflasi dalam grafik dibawah.

Bila pada tahun 2000 harga yang disesuaikan dengan inflasi mencapai 4.6 kali harga riilnya; pada tahun ini – harga teoritis yang disesuaikan dengan inflasi hanya 1.7 kali harga riil. Artinya harga emas dunia dalam US$ saat ini sedang menuju angka wajarnya.

Barang-barang lain yang ada di pasar pada umumnya mengikuti harga yang wajar yang disesuaikan dengan tingkat inflasi tersebut. Misalnya baju yang pada tahun 1980 harganya US$ 5 ; saat ini setelah disesuaikan dengan tingkat inflasi harga yang wajarnya menjadi US$ 13.10

Anda bisa ‘bermain-main’ sendiri dengan kewajaran harga dengan pendekatan Inflation Adjusted Price ini karena United States Department of Labor telah menyediakan calculator seperti gambar di atas untuk menghitung harga suatu barang berdasarkan tingkat inflasi US$.

Perhitungan Bloomberg dengan menggunakan calculator yang sama menghasilkan angka tertinggi yang jauh lebih tinggi dari perhitungan saya tersebut diatas – yaitu US$ 2,287/oz ; ini karena mereka mengambil angka tertinggi untuk tahun 1980 yang dijadikan tahun rujukan – sedangkan saya menggunakan angka rata-rata untuk tahun tersebut.

Sekali lagi ini hanya prediksi statistik – yang terjadi di pasar bisa saja berbeda karena berbagai faktor yang tidak hanya faktor ekonomi, kepentingan corporatocracy ikut bermain dan untuk harga dalam Rupiah, nilai tukar Rupiah tentu saja sangat ikut berperan. Wa allahu A’lam.

20 Oktober 2009

Dengan Syariah Emas, Dunia Akan Bisa 8.7 Kali Lebih Makmur ...!!

Dalam sebuah siaran televisi Business News Network (BNN) beberapa hari lalu, Trace Mayer – seorang financial blogger yang cerdas dari Canada memberikan uraian menarik tentang struktur kekayaan di seluruh dunia saat ini. Dia menggambarkan struktur kekayaan ini membentuk piramida terbalik seperti pada ilustrasi disamping.

Paling atas adalah kekayaan ‘paling palsu’ yang menggelembung dalam berbagai bentuk derivatives, nilainya mencapai sekitar US$ 1,600 Trilyun (Seribu Enam Ratus Trilyun US Dollars !). Dibawahnya sedikit lebih baik dari ini adalah berbagai asset dalam bentuk real estate dan non–monetary commodities, jumlahnya hanya sekitar 8 % dari asset yang di gelembungkan tersebut diatas atau sekitar US$ 125 Trilyun.

Yang ketiga adalah hutang yang ada jaminannya dan saham, nilainya hanya US$ 100 Trilyun . Yang keempat adalah uang dalam arti luas dalam bentuk obligasi pemerintah, treasury bills dlsb.; nilainya sebesar kurang lebih US$ 65 Trilyun. Yang kelima adalah uang kertas dalam bentuk fisik seperti US$ Yen , Euro, Rupiah dst.; nilainya hanya sekitar US$ 4 Trilyun.

Yang terakhir adalah kekayaan yang sesungguhnya yaitu berupa emas dan perak yang nilainya dperkirakan hanya sekitar US$ 4 Trilyun, atau hanya 0.25% dari kekayaan yang paling atas (derivatives).

Struktur ini digambarkan sebagai piramida yang terbalik oleh Trace Mayer, untuk mengisyaratkan betapa labilnya ekonomi dunia saat ini. Kekayaan yang paling atas adalah yang paling tidak aman, semakin kebawah semakin aman.

Seperti grafitasi bumi yang menarik benda-benda jatuh kebawah, maka setiap kali pemegang asset merasa tidak nyaman dengan asset-nya - maka dia akan mencari pelarian ke asset yang lebih aman dibawahnya.

Investor yang sudah tidak nyaman dengan derivatives akan pindah ke real estate dan sejenisnya; kemudian tidak nyaman lagi akan pindah ke securitized debt dan stocks, tidak nyaman lagi akan pindah ke obligasi pemerintah dan sejenisnya; tidak nyaman lagi akan memilih memegang uang saja; dan tidak nyaman lagi akhirnya akan berburu emas dan perak.

Karena emas dan perak jumlahnya terbatas dan tidak bisa digelembungkan seperti pada asset-aset diatasnya, maka apa yang akan terjadi ? hukum permintaan dan penawaran yang akan berlaku. Ketika permintaan melebihi penawaran, harga pasti naik.

Lantas dengan emas yang nilainya hanya sekitar US$ 4 trilyun atau 0.25 % dari seluruh asset derivatives dunia; apakah emas akan cukup untuk memutar ekonomi dunia ? jawabannya adalah sangat-sangat cukup !. Berikut perhitungannya :

Total seluruh Gross Domestic Product (GDP) dunia saat ini ‘hanya’ sekitar US$ 55 Trilyun; jadi jelas tidak memerlukan derivates yang nilainya US$ 1,600 Trilyun untuk menghasilkan GDP yang nilainya hanya US$ 55 Trilyun ini. Tetapi emas yang diam atau disimpan saja, nilainya cuma US$ 4 Trilyun, jadi tidak cukup juga untuk menghasilkan GDP yang US$ 55 Trilyun.

Itulah sebabnya dalam Islam, emas tidak boleh ditimbun, tidak boleh digunakan untuk perhiasan laki-laki, tidak boleh untuk tempat makan dan minum – agar dia beredar untuk digunakan sebagai uang. Contoh yang diberikan dalam suatu hadits Rasulullah SAW, perputaran harta yang banyak ini adalah hanya dalam waktu 3 hari.

Jadi emas yang ada di dunia senilai US$ 4 Trilyun, bila berputar sebagai uang dengan kecepatan berputar 3 hari sekali, maka potensi nilai ekonomi yang diputarnya akan mencapai US$ 480 Triyun atau sekitar 8.7 kali dari total GDP seluruh dunia saat ini. !.

Artinya apa ini semua ?; dengan menggunakan emas sebagai uang, kemudian penggunaannya mengikuti tuntunan syariah – maka dunia bisa 8.7 kali lebih makmur dari dunia yang sekarang. Wa Allahu A’lam.


19 Oktober 2009

Dinar Emas Sebagai Personal Purchasing Power Protection ..

Dari dua puluh tahun pengalaman saya di industri asuransi dan bergelut dengan berbagai produk proteksi risiko; ada satu risiko yang pasti kita alami tetapi tidak ada satupun proteksi asuransi untuk men-cover-nya, risiko ini adalah menyusutnya daya beli uang kita yang kita kumpulkan dengan keringat dan kadang air mata bertahun-tahun.

Agar tidak ada yang tersinggung di negeri ini, saya ambilkan contoh uang negeri Paman Sam yang dijadikan sebagai rujukan uang lain di dunia sampai saat ini. Perhatikan grafik dari Casey Research disamping. Sejak Amerika tidak lagi menggunakan emas sebagai standard uangnya tahun 1971 sampai sekarang, uang US $ telah kehilangan 82 % daya belinya. Dengan kata lain Dollar Amerika sekarang hanya memiliki 18 % daya beli ketimbang Dollar yang sama tahun 1971.

Penyusutan daya beli US$ ini akan terus terjadi dan bahkan akan cenderung lebih cepat karena laju ‘pencetakan uang’ mereka melonjak sejak krisis finansial dua tahun terakhir. Perhatikan grafik dibawah untuk ini.

Laju menurunnya daya beli US$ ini juga dipercepat oleh realita – realita berikut :

· Hutang nasional mereka sebesar US$ 11.6 trilyun yang melebihi GDP 2009 yang hanya US$ 8.3 trilyun.

· Pengeluaran pemerintah sampai saat ini (YTD) US$ 2.4 trilyun yang dua kali dari pendapatan pajak US$ 1.2 trilyun.

· Unfunded liability (tanggungan pemerintah yang tidak di back-up dengan asset yang mencukupi) mencapai US$ 58.7 trilyun yang terdiri dari Biaya kesehatan US$ 39.6 trilyun; biaya sosial 10.6 trilyun; biaya lain-lain US$ 8.5 trilyun.

Realita-realita tersebut-lah yang akan mendorong US$ terus menurun daya belinya dan bukan menaik seperti pendapat di beberapa blog yang tidak sependapat dengan pendapat saya.


Memang dalam jangka pendek bisa saja daya beli US$ ini naik sesaat, seperti yang pernah terjadi awal Maret 2009 lalu ketika dunia berburu US$ yang langka saat itu – US $ Index sempat mencapai angka diatas 89. Namun setelah kondisi normal, kekuatan US$ yang diukur dengn US$ Index terus mengalami penurunan hingga saat ini yang angkanya hanya berada di kisaran 75. Angka US$ Index ini lima tahun lalu berada di kisaran 90-an keatas.

Nasib yang dialami US$ ini sebenarnya juga cerminan apa yang dialami oleh mata uang-mata uang negara lain yang menjadikan US$ sebagai gurunya. Bahkan sebagai murid, kondisinya kebanyakan lebih buruk dari apa yang dilakukan oleh sang guru; ingat pepatah “ Guru…Berdiri , Murid…Berlari…”.

Jadi risiko penurunan daya beli uang kita – apapun nama mata uang kertas kita – adalah risiko yang pasti terjadi. Lantas bagaimana kita menyikapi risiko yang satu ini ?, lha wong tidak ada satu asuransi-pun yang bisa menjamin atau memberi proteksi kita terhadap risiko penurunan daya beli uang kita ini ?.

Secara pribadi, kita bisa membuat sendiri proteksi terhadap hasil jerih payah kita dengan apa yang disebut 4 P singkatan dari Personal Purchasing Power Protection ; yaitu perlindungan pribadi untuk daya beli uang kita.

Salah satu 4P yang paling sederhana namun sangat efektif dan sudah terbukti reliabilitasnya ya Dinar atau emas. Di bandingkan US$ yang kehilangan 82 % daya belinya sejak 1971 misalnya; daya beli emas malah naik 3.5 kalinya sejak saat itu.

Kalau mau repot sedikit, tetapi hasilnya insyaallah bisa lebih baik dari emas sebagai 4 P ya invest di sector riil. Pelihara kambing, pelihara sapi, menanam pohon; memproduktifkan lahan-lahan yang nganggur dlsb.

Jadi yang tidak setuju dengan saya silahkan saja kalau mau tetap pakai US$ ; saya akan tetap pilih Dinar sebagai 4 P saya, selain juga pelihara sapi, pelihara kambing dst. Wa Allahu A’lam.

Disclaimer

Meskipun seluruh tulisan dan analisa di blog ini adalah produk dari kajian yang hati-hati dan dari sumber-sumber yang umumnya dipercaya di dunia bisnis, pasar modal dan pasar uang; kami tidak bertanggung jawab atas kerugian dalam bentuk apapun yang ditimbulkan oleh penggunaan analisa dan tulisan di blog ini baik secara langsung maupun tidak langsung.

Menjadi tanggung jawab pembaca sendiri untuk melakukan kajian yang diperlukan dari sumber blog ini maupun sumber-sumber lainnya, sebelum mengambil keputusan-keputusan yang terkait dengan investasi emas, Dinar maupun investasi lainnya.