Pergerakan Harga Dinar 24 Jam

Dinar dan Dirham

Dinar dan Dirham
Dinar adalah koin yang terbuat dari emas dengan kadar 22 karat (91,7 %) dan berat 4,25 gram. Dirham adalah koin yang terbuat dari Perak Murni dengan berat 2,975 gram. Khamsah Dirham adalah koin yang terbuat dari Perak murni dengan berat 14,875 gram. Di Indonesia, Dinar dan Dirham diproduksi oleh Logam Mulia, unit bisnis dari PT Aneka Tambang, Tbk, dan oleh Perum PERURI ( Percetakan Uang Republik Indonesia) disertai Sertifikat setiap kepingnya.

28 Desember 2009

Inflasi ? Siapa Takut…?

Salah satu momok perekonomian yang menyengsarakan rakyat adalah inflasi, bahkan salah satu unsur di Index Kesengsaraan (Misery Index) yang saya tulis pekan lalu juga masalah inflasi ini. Betapa tidak menyengsarakan; lha wong momok inflasi ini menyerang ke siapa saja tanpa terkecuali.

Si embok di desa karena kemiskinannya hanya mampu membeli beras paling murah seharga Rp 2,500/kg tahun 2003 ; beras yang sama kini baru bisa dibeli dengan harga Rp 4,025/kg.

Pasangan muda yang lima tahun lalu melahirkan anak pertamanya dengan biaya Rp 5 juta; anak ketiganya yang lahir tahun ini, di rumah sakit yang sama dengan layanan yang sama harus dibayarnya dengan biaya lebih dari Rp 8 juta.

Kenaikan harga-harga secara umum ini dapat Anda hitung sendiri perkiraan kasarnya dengan menggunakan Index Harga Konsumen, yang antara lain datanya bisa kita peroleh dari situs resminya Bank Indonesia.

Dengan cara yang sama inflasi yang tercermin dari Index Harga Konsumen ini bukan hanya menyengsarakan kita semua saat ini, tetapi juga bisa menyengsarakan kita di masa-masa mendatang bila tidak kita pahami dan atasi dari sekarang.

Mengapa demikian ?, Bila selama ini tabungan kita memberikan hasil 6 % misalnya di bank, bertambahkah uang kita ?. Angkanya memang bertambah, tetapi karena Indek Harga Konsumen mengalamai kenaikan rata-rata 8.75% per tahun selama 5 tahun terakhir – maka sejatinya daya beli tabungan kita tersebut bukannya bertambah – malah berkurang.

Demikian-pula berbagi bentuk investasi kita lainnya; kalau selama ini angkanya kelihatan besar – coba Anda kurangkan dengan kenaikan Index Harga Konsumen; masihkah angkanya positif ?; kalau masih positif, masihkan angkanya cukup menarik untuk Perencanaan Keuangan Anda jangka panjang ?.

Namun sebenarnya inflasi in bisa dengan relative mudah kita lawan, yaitu bila tabungan kita berupa benda riil yang appressiasi nilainya melebihi inflasi.

Dinar adalah salah satu contoh saja dari benda riil yang bisa mengalahkan inflasi ini; dari grafik dan data tersebut diatas, kita tahu lima tahun terakhir Dinar mengalami appresiasi nilai ratra-rata 20.32% sedangkan Inflasi rata-rata ‘hanya’ 8.75%.

Dinar memberikan hasil investasi yang jelas lebih dari cukup untuk mengimbangi melonjaknya harga-harga barang dan jasa karena inflasi seperti dalam beberapa contoh kasus tersebut diatas.

Jadi, tools untuk melawan inflasi ini sungguh ada…tinggal kita mau gunakan atau tidak, ini sepenuhnya terserah kita …, Wa Allahu A’lam.

23 Desember 2009

Harga Emas Dunia Akan Terus Turun… ?

Sudah hampir tiga pekan ini harga emas dunia terus mengalami penurunan. Setelah mengalami puncak tanggal 2 Desember lalu pada angka US$ 1,212.50/ Oz (sumber : Kitco), pada saat artikel ini saya tulis (23/12/09 pagi) harga emas dunia hanya diperdagangkan pada harga US$ 1,086.10 /Oz- atau telah mengalami penurunan lebih dari 10 % dari pencapaian tertingginya.

Akankah penurunan ini terus berlanjut ?; tidak ada yang tahu masalah ini – bahkan analis pasar terbaik sekalipun tidak akan pernah bisa 100% benar dalam memprediksi kondisi pasar masa depan. Demikian pula saya, yang bisa saya sampaikan adalah hanya kajian statistik untuk berusaha memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi dan kemungkinan pengaruhnya kedepan.

Berdasarkan analisa statistik inilah jawaban saya yang saya berikan pada para penanya akan masalah trend harga emas kedepan ini kurang lebih sebagai berikut : “ dalam jangka pendek bisa saja penurunan ini berlanjut, tetapi jangka panjangnya - setahun atau lebih – perkiraan terbaik saya (best estimate) adalah dorongan naik insyaallah akan lebih besar ketimbang dorongan turunnya”.

Dasar teknis dari perkiraan saya ini menggunakan statistik harga emas dunia dibandingkan dengan apa yang disebut Real Interest Rate. Karena harga emas dunia masih dinilai dalam US$, maka yang saya gunakan adalah US $ Real Interest Rate.

Real Interest Rate

US$ Real Interest Rate ini adalah tingkat suku bunga simpanan, yang untuk keperluan analisa ini digunakan 3 Month US-T – Bill, dikurangi dengan tingkat inflasi. Statistik menunjukan bahwa apabila US$ Real Interest Rate ini negatif, maka harga emas dalam US$ akan naik. Perhatikan grafik disamping yang saya ambilkan dari MClellan Financial Publication yang menjelaskan fenomena melonjaknya harga emas dunia pada akhir tahun 70-an.

Penjelasannya demikian : pada saat simpanan masyarakat di bank atau obligasi pemerintah memberikan hasil yang lebih rendah dari inflasi, maka masyarakat akan mencari bentuk simpanan yang lain yang memberikan hasil lebih. Salah satu yang memberikan hasil lebih ini adalah emas, maka masyarakat berbondong-bondong membeli emas – dan harga emas akan terus terdorong naik.

Sayangnya sumber yang saya petik grafiknya tersebut diatas tidak memberikan data terkini dari US$ Real Interest Rate; maka saya ‘lanjutkan’ grafik tersebut untuk situasi terkini berdasarkan data-data yang saya kumpulkan dari US Department of Labor; the Federal Reserve dan juga dari Kitco untuk harga emas terakhir. Hasilnya dapat dilihat pada grafik diatas.

Jadi sejak tahun lalu sampai sekarang, US$ Real Interest Rate masih negatif. Bahkan the Fed belum akan bisa menaikkan suku bunga karena krisis financial negeri itu belum sepenuhnya pulih. Kalau toh akan dinaikkan kemungkinan besarnya hanya akan berada pada kisaran 0.25% – 0.5% yang belum akan mengubah posisi negatif Real Interest Rate tersebut.

Maka menurut saya sendiri, penurunan harga emas dalam tiga minggu ini, masih berupa Noise dan bukan merupakan Signal yang sesungguhnya dari harga emas dunia.

Pada waktu seperti ini, saya sendiri akan membeli banyak-banyak emas (kalau punya uang) untuk dicetak menjadi Dinar kemudian diputar sebagai permodalan sector riil yang lebih bisa diandalkan; namun bagi yang ingin berspekulasi dengan emas untuk memperoleh keuntungan jangka pendek – saya tidak menganjurkannya sama sekali !. Wa Allahu A’lam.

21 Desember 2009

Modified Misery Index : Kesengsaraan Rakyat Karena Riba dan Inflasi…

Misery Index (Index Kesengsaraan) adalah indikator ekonomi yang diperkenalkan oleh Professor Arthur Melvin Okun ekonom dari Yale University. Index ini awalnya sederhana saja yaitu menjumlahkan antara tingkat inflasi dan tingkat pengangguran di suatu negara – dua hal yang mencerminkan biaya ekonomi dan sosial suatu negara.

Index ini kemudian diubah oleh Professor Robert Joseph Barro dari Harvard University dengan menambahkan unsur tingkat bunga bank dan Gross Domestic Product (GDP) untuk melihat dinamika kesengsaraan masyarakat dari waktu ke waktu. Index yang sudah diubah ini kemudian disebut Modified Misery Index.

Di Amerika, Index ini dengan mudah dipakai untuk menilai secara kwantitatif apakah seorang presiden bisa memakmurkan rakyat selama pemerintahannya atau sebaliknya. Ronald Reagan pada masa pemerintahannya yang pertama misalnya tercatat sebagai presiden yang paling bisa memakmurkan rakyatnya (Index = – 4.90), sedangkan Jimmy Carter tercatat sebagai presiden yang paling menyengsarakan rakyatnya (index = + 9.40).

Untuk Indonesia, ekonom dunia yang secara khusus nampak punya ‘kepentingan’ di Indonesia adalah Prof . Steve H. Hank yang di akhir masa pemerintahan Orde Baru 1998 dulu berbicara intensif dengan presiden Indonesia waktu itu dengan ide Currency Board System-nya.

US Misery

Dalam pengamatan dan data dua dasa warsa yang dikumpulkan oleh ekonom yang satu ini, rakyat Indonesia sampai sekarang masih sama sengsaranya dengan kondisi tahun 80-an dan 90-an. Memang kita pulih dari puncak krisis moneter yang terkenal dengan Krismon tahun 1998; tetapi kepulihan ini tidak membuat Indonesia lebih baik dari sebelum Krismon.

Grafik diatas yang merepresentasikan penjumlahan tingkat suku bunga, tingkat inflasi, dan tingkat pengangguran kemudian dikurangi perubahan GDP year on year – menggambarkan tingkat kesengsaraan rakyat Indonesia dari waktu ke waktu. Semakin tinggi Index, semakin sengsara rakyat.

Teori Modified Misery Index ini sesungguhnya juga menggambarkan bahwa semakin tinggi tingkat bunga (riba) dan inflasi yang berlaku dalam suatu negara, semakin sengsara rakyat di negara tersebut. Sebaliknya semakin rendah tingkat suku bunga (riba) dan semakin rendah inflasi – maka akan semakin makmur rakyat di negara tersebut.

Jadi jelas bukan ?, bahwa untuk memakmurkan rakyat tingkat suku bunga (riba) harus ditekan serendah mungkin – dan ini hanya bisa dilakukan bila suatu negeri meninggalkan riba.

Demikian pula halnya bahwa inflasi juga harus ditekan serendah mungkin, dan ini hanya bisa terjadi bila uang di suatu negara tidak mudah dicetak begitu saja – karena inflasi terjadi oleh sebab uang yang dicetak terus menerus tidak sepadan dengan transaksi riil yang memerlukan keberadaan uang tersebut. Hanya uang emas (Dinar) dan perak (Dirham) yang telah terbukti selama ribuan tahun tidak mengalami inflasi, karena Dinar maupun Dirham adalah uang dari benda riil – harus benar-benar ada emas untuk mencetak Dinar dan ada perak untuk mencetak Dirham.

Bila dua dari empat unsur dalam Modified Misery Index yaitu tingkat bunga dan inflasi sudah teratasi dengan ditinggalkannya riba dan digunakannya Dinar dan Dirham; maka tugas pemerintah tinggal dua saja untuk meciptakan kemakmuran – yaitu menciptakan lapangan kerja dan fokus pada pertumbuhan ekonomi (GDP).

Jadi diuji dari teori ekonomi manapun, system Islam yang lahir dari petunjuk Yang Maha Tahu – terbukti paling sesuai dan mudah untuk menciptakan kemakmuran bagi umat sepanjang zaman. Masihkah kita meragukannya ?. Wa Allahu A’lam.

18 Desember 2009

Tahun Baru, Produk Baru : Satu Langkah Kehulu…

GeraiDinar.Com lahir akhir 2007 dan setahun kemudian lahir pula M-Dinar.Com; dua situs yang saling melengkapi untuk penyebarluasan Dinar secra fisik dan secara elektronik. Namun kontinyuitas supply Dinar bisa terganggu kedepannya bila tidak sedari dini kami antisipasi dengan hal yang sangat essensial, yaitu kontinyuitas supply bahan baku untuk pembuatan Dinar itu sendiri – emas murni 24 Karat.

Untuk mengamankan kontinyuitas supply bahan baku inilah maka , dengan memanjatkan syukur yang tiada henti ke hadirat Ilahi Rabbi – alhamdulillah bertepatan dengan tahun baru 1 Muharam 1431 H ini kami dapat luncurkan satu lagi bisnis unit di lingkungan GeraiDinar yang kami beri nama emas24.com.

Emas 24 adalah sebutan emas murni, karena emas murni adalah 24 Karat atau 0.9999. Emas murni inilah yang menjadi bahan baku utama Dinar kita yaitu Dinar 22 Karat atau 0.917. Selebihnya adalah perak sebesar 8.3%; untuk sementara kami belum cemaskan supply bahan baku perak – jadi kami belum terjun ke pasar perak.

Objektif utama kami untuk terjun ke pasar emas 24 ini adalah untuk memahami dan terlibat secara luas dan langsung di pasar emas murni ini sehingga melalui keterlibatan ini dapat diperoleh akses pasar emas 24 sebagai bahan baku Dinar yang kontinyu di masa masa mendatang.

Berbeda dengan GeraiDinar yang kental dengan nuansa dakwahnya; emas 24 diarahkan ke masyarakat luas yang saat ini menguasai perdagangan emas di Indonesia. Karena heterogennya masyarakat per-emasan ini, maka meskipun tetap membawakan nilai-nilai Islam – di emas24.com kami akan lebih banyak menggunakan bahasa yang bersifat universal.

Karena tujuan utama terjun ke pasar emas 24 ini adalah memperoleh akses pasar bahan baku yang berkelanjutan tersebut, maka tentu kami lebih banyak membeli emas 24 dibandingkan dengan kegiatan menjualnya. Emas-emas 24 yang kami beli dari masyarakat langsung ini untuk selanjutnya akan kami bawa ke Logam Mulia- Aneka tambang, TBK untuk dicetak menjadi Dinar. Kelebihan dari kebutuhan bahan baku Dinar ini baru kami lepas kembali ke pasar dalam bentuk emas lantakan 24 Karat.

Selain jual beli emas 24 karat, sebagai bagian dari layanan yang terintegrasi ke masyarakat luas emas24.com juga menyediakan jasa penyimpanan, jasa asuransi emas, pemesanan, penitipan untuk dijual dlsb.

Berbeda dengan Dinar yang bisa diQiradkan atau di simpan di M-Dinar; emas 24 tidak mudah untuk diputar. Masyarakat yang menitip 50 gram misalnya; bisa berupa 10 keping @ 5 gram; 5 keping @ 10 gram; 2 keping @ 25 gram atau 1 keping @ 50 gram. Ketika titipannya diambil, mereka pasti meminta jumlah dan jenis keping yang sama. Meskipun total gramnya sama, bila total dan jenis kepingnya berbeda – harga juga berbeda karena faktor biaya cetak.

Karena masalah inilah masyarakat yang menitipkan emas 24, tidak kami tawari untuk mengikuti program Qirad atau M-Dinar. Mereka khusus menitipkan untuk disimpan dan diproteksi dengan asuransi; biaya yang timbul dari penitipan ini juga kami bebankan ke mereka yang menitipkan.

Bila diinginkan penitipan ini tidak membebani atau Emas 24 ingin dijadikan modal yang likwid , maka emas tersebut dapat ditukarkan menjadi Dinar terlebih dahulu kemudian disimpan dalam bentuk M-dinar dengan aqad Mudharabah. Insyallah aqad Mudharabah M-Dinar ini akan segera memberi hasil, sebagaimana juga program Qirad kita.

Kalau selama ini kami fokus pada produk akhir Dinar; maka masuk ke pasar emas 24 adalah satu langkah ke hulu – yaitu pasar bahan baku untuk Dinar. Insyaallah kelak, bila Allah berkehendak as and when dibutuhkan - maka langkah tersebut bisa dilanjutkan ke yang lebih hulu lagi, minting, mining dlsb. Insyaallah.

15 Desember 2009

Ingin Investasi Yang Adil ?, Pahami Neracanya…!.

Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS 55 :7-9)

Pentingnya neraca, timbangan atau tolok ukur yang adil tergambar dari serangkaian ayat di surat Ar Rahmaan tersebut diatas, sampai tiga kali Allah mengulanginya dalam tiga ayat yang berurutan.

Hanya neraca atau timbangan yang adil yang bisa menimbang segala sesuatu yang adil; neraca atau timbangan yang tidak adil – tidak bisa dipakai untuk menegakkan keadilan.

Di pentas hukum misalnya di Indonesia belakangan ini rame dengan berbagai kasus yang melukai rasa keadilan rakyat seperti kasus Bibit dan Chandra, Kasus Prita, kasus Nenek Minah dan berjibun kasus-kasus lainnya. Mengapa rasa keadilan rakyat terluka dengan kasus-kasus tersebut ?, sederhana – karena ada rasa keadilan yang tidak bisa ditegakkan oleh system hukum yang ada.

Demikian pula sebenarnya yang terjadi dengan system ekonomi dan investasi. Karena neraca atau timbangan yang umum dipakai di masyarakat pelaku ekonomi bukanlah timbangan yang adil – maka mayoritas penduduk negeri ini (dan dunia) jatuh pada kategori miskin – tanpa tahu bahwa sebenarnya dirinya miskin.

Contoh timbangan yang tidak adil ini adalah standar kemiskinan versi The World Bank yang menyatakan bahwa seseorang dikategorikan sangat miskin (extreme poverty) bila memiliki daya beli US$ 1.25 / hari; saat ini di seluruh dunia ada 1.1 milyar manusia yang masuk kategori ini.

Diatasnya sedikit disebut miskin menengah atau moderate poverty yaitu bila memiliki daya beli kurang dari US$ 2 /hari. Yang masuk kategori ini ada 2.7 Milyar manusia di permukaan bumi.

Apakah yang memiliki daya beli diatas US$ 2/hari berarti makmur ?, tidak juga – karena timbangan US$ 1.25 untuk extreme poverty maupun yang US$ 2 untuk moderate poverty tersebut bukanlah neraca yang adil untuk mengukur kemiskinan. Yang moderate saja dengan US$ 2/hari berarti hanya US$ 730/tahun atau kurang dari 5 Dinar/tahun.

Sandingkan ini dengan neraca Islam yaitu nishab zakat yang membedakan si kaya dengan si miskin pada angka 20 Dinar; Orang yang masih dikategorikan miskin menurut Islam (masih berhak menerima zakat), masih 4 kali lebih kaya dari standar kemiskinan moderate Dunia !.

Di system investasi-pun neraca yang tidak adil yang memiskinkan mayoritas penduduk dunia ini juga terjadi. Ketika pelaku usaha membuat business plan atau project proposal untuk menilai kelayakan suatu investasi, mereka biasa mengukur antara lain dengan Return on Investment (ROI) yang disandingkan dengan hasil deposito, SBI dan sejenisnya.

Kalau Deposito saat ini memberikan hasil 8 % misalnya; maka project investasi yang memberikan hasil 20% (2.5 kali hasil deposito !.) – sudah dianggap sebagai investasi yang luar biasa.

Bila bank tempat Anda menabung membiayai projek seperti yang saya contohkan diatas, kebagian untung kah Anda ?; tentu kebagian.

Hitungan kasarnya kurang lebih begini ; pemilik projek akan berbagi hasil dengan bank yang membiayainya misalnya 50/50 – maka bank mendapatkan 10% hasil dan pemilik projek mendapatkan 10 % pula. Lantas bank juga akan berbagi hasil dengan Anda misalnya 40/60 ; maka bank mendapatkan bersih 4 % dan anda mendapatkan 6 %.

Sudah menguntungkan ?; nanti dulu !. rata-rata inflasi kita (2001-2008, tahun ini belum ketahuan) 9 tahun terakhir adalah 8.98 %. Jadi hasil yang Anda peroleh dari tabungan Anda lebih rendah dari angka inflasi.

Mayoritas pekerja mengandalkan investasinya pada tabungan, deposito , dana pensiun dan lain sebagainya yang semua hasilnya ditimbang dengan neraca tingkat hasil deposito bank, SBI dan sejenisnya. Walhasil kita semua baru sadar bahwa ternyata hasil jerih payah bekerja bertahun-tahun, bukannya bertambah tetapi tergerus oleh inflasi - kita tidak menyadarinya karena kita tidak menggunakan timbangan yang benar untuk membaca hasil investasi.

Itulah mengapa Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menyatakan bahwa hanya emas dan peraklah yang bisa menjadi hakim (timbangan) yang adil dalam bermuamalah. Setahun terakhir harga emas di dunia naik 37% (sumber Kitco) dan Dinar dalam Rupiah naik 26% (sumber situs ini) ; maka investasi Anda dalam Rupiah harus bisa melampui hasil bersih minimal 26% atau bila dalam US$ harus bisa melampui 37% - setahun terakhir untuk sekedar menjaga daya beli riil dari investasi Anda tersebut.

Bila Anda mudharabahkan dengan nisbah bagi hasil 50/50, maka pihak Mudharib harus bisa memperoleh hasil dua kalinya dari angka tersebut – yaitu 52 % untuk Rupiah dan 74% dalam US$. Wow…

Lantas adakah investasi yang memberikan hasil super tinggi tersebut di jaman krisis seperti ini ?; Jawabannya adalah pasti ada. Pertama angka tersebut kelihatan super tinggi hanya karena (timbangan) kacamata kita yang selama ini keliru – yaitu timbangan suku bunga deposito , SBI dan sejenisnya.

Emas atau Dinar sebenarnya tidak naik harganya; selama 1400 tahun lebih 1 Dinar (4.25 gram) setara dengan satu kambing. Artinya seluruh investasi sector riil, yang menumbuhkan atau menghasilkan benda riil, pasti hasilnya lebih baik – bila ditimbang dengan ukuran benda riil yang adil seperti emas atau Dinar ini.

Contoh, bila Anda punya uang 2 Dinar. Satu Anda belikan kambing, yang satu Anda simpan dalam Dinar. Setelah dua tahun rata-rata kambing beranak 3 kali, dan anaknya bisa dua sekali beranak. Maka kambing Anda telah menjadi 4 – 7 ekor setelah dua tahun. Ambil terkecilnya 4 (1 induk dan 3 anak). Ambil risiko kematian 1/3 (peternak yang berhasil bisa menurunkan kematian tinggal 1/20), maka kambing Anda kini berjumlah 3. Satu untuk yang melihara dan satu untuk Anda bersih; artinya setelah dua tahun kambing Anda menjadi 2 ekor yang masing-masing harganya @ 1 Dinar ; sementara uang 1 Dinar Anda tetap 1 Dinar.

Hanya berlaku untuk kambingkah ini ? tidak, sektor-sektor riil lainnya juga berpeluang memberikan hasil yang luar biasa.

Ambil contoh tanaman sengon. Bibitnya hanya berharga Rp 1,000,- per batang ; setelah 5 tahun dipanen – harga rata-ratanya adalah Rp 500,000/batang. Berapa kenaikannya ? 500 kali atau 50,000%. Oke butuh biaya sewa tanah, pemeliharaan, risiko mati dlsb. Anggap saja kita petani sengon yang pada tahap belajaran - jadi belum optimal, 90% dari nilai tersebut habis untuk seluruh biaya-biaya usaha tersebut; masih berapa hasil kita ?, masih 50 x dari investasinya !.

Mudah-kah ini semua ?; tentu tidak mudah – tetapi jelas bukanlah hal yang mustahil !. Agar apa yang saya tulis di situs ini tidak hanya sebatas ilmu dan wacana – kita sudah mulai berusaha menternakkan kambing dan menanam sengon di Pesantren Wirausaha kita di Jonggol.

Alhamdulillah Dua bulan setelah saya menulis tentang Kambingnomics – yang bersamaan dengan dimulainya projek perkambingan kita ; anak kambing pertama lahir seperti dalam foto diatas, seminggu kemudian kambing yang lain juga melahirkan….Dinar demi Dinar lahir dari perut-perut kambing ini…Insyallah.

Mungkin Anda bertanya, kalau demikian tinggi hasil sektor riil dalam contoh tersebut, mengapa tidak semua peternak kambing dan petani sengon menjadi kaya raya ?. Jawabannya adalah karena kita hidup dalam system yang yang juga tidak adil; seperti akses pasar, akses kapital; akses sumber daya dan lain sebagainya yang insyaallah jadi bahan tulisan saya lainnya. Mudah-mudahan Allah memberi saya Ilmu, rizky dan usia untuk melanjutkan pekerjaan ini. Amin.

14 Desember 2009

Rupiah Index (RIX) : Mengukur Kekuatan Rupiah Kita…

Dunia finansial selama ini sudah sangat familiar dalam menggunakan nilai tukar mata uang satu terhadap yang lain sebagai tolok ukur untuk menilai kekuatan mata uang tertentu. Rupiah misalnya, hampir selalu disandingkan dengan Dollar Amerika untuk menilai apakah Rupiah sedang menguat atau sedang melemah.

Ketika tahun lalu nilai tukar US$ 1 sempat mendekati Rp 12,000,- orang mengatakan bahwa Rupiah sedang terpuruk, nilai Rupiah anjlog dan lain sebagainya. Ketika akhir-akhir ini Rupiah kembali mendekati Rp 9,300/US$ orang mengatakan bahwa Rupiah sedang menguat dst.

Yang jadi masalah adalah tolok ukur yang digunakan dalam menilai kekuatan Rupiah yaitu dalam contoh tersebut diatas US$ - nilainya sendiri terus bergerak. Dapatkah benda bergerak yang satu untuk mengukur benda bergerak lainnya ?; ini pelajaran waktu kita SMP. Kecepatan mutlak mobil yang sedang melaju, tidak bisa diukur dengan kecepatan mobil lainnya yang juga sedang melaju – hasilnya akan relatif.

Demikian pula mata uang yang satu terhadap mata uang lainnya; kekuatannya hanya akan bersifat relatif satu sama lain. Kekuatan yang mutlak hanya bisa dibandingkan terhadap barang-barang yang bernilai stabil – atau memiliki daya beli tetap sepanjang zaman, yaitu emas (Dinar) dan perak (Dirham).

Sebagai gambaran emas 1 oz (setara +/- 31.10 gr) tahun 1935 cukup untuk membeli setelan jas kwalitas tinggi, sekarang-pun demikian. 15 oz tahun tersebut cukup untuk membeli mobil keluarga kwalitas sedang – sekarang-pun demikian. 150 oz cukup untuk membeli Rumah bagus – sekarang-pun tetap demikian. Juga contoh legendaries, 1 Dinar (4.25 gram) cukup untuk membeli kambing lebih dari 1400 tahun lalu – sekarang-pun tetap cukup untuk membeli kambing kelas A. Jadi seharusnya tolok ukur itu adalah emas (Dinar) atau perak (Dirham).

Namun sejak tahun 1971 ketika penggunaan emas sebagai standar atau tolok ukur ditinggalkan rame-rame oleh seluruh negara di dunia, maka dunia finansial tidak lagi memiliki tolok ukur yang baku tersebut. Problem ini sebenarnya sudah mulai dirasakan oleh sebagaian orang, maka sejak tahun 1973 – diperkenalkanlah apa yang disebut sebagai US$ Index misalnya untuk melihat kekuatan Dollar terhadap sekelompok mata uang lainnya.

US$ Index ini tetap dipakai sampai sekarang untuk menilai kekuatan US$ secara relatif terhadap sejumlah mata uang kuat dunia. Sejak digunakannya Euro tahun 1999, mata uang yang digunakan sebagai pembanding ini adalah Euro, Yen, Poundsterling, Dollar Canada, Krona Swedia dan Francs Swiss. Ketika mulai digunakan Maret 1973, US$ Index ini di set pada nilai 100. Dalam perjalanannya selama 38 tahun ini, US$ Index pernah mencapai angka tertinggi di kisaran 160, tetapi juga pernah terpuruk hingga 70 ; saat ini angkanya berada di kisaran 76.

Ok, masyarakat dunia sekarang sudah biasa menggunakan US$ Index ini untuk menilai kekuatan US$ secara relatif lebih baik – meskipun tidak seakurat bila diukur dengan nilai emas. Bagaimana dengan Rupiah ?; kalau saya sendiri tentu tetap prefer menggunakan Dinar atau emas untuk menilai kekuatan uang kita ini – karena Dinar atau emas inilah yang terbukti berdaya beli stabil sepanjang masa seperti contoh-contoh tersebut diatas.

Hanya kalau kita perlu melihat kekuatan relatif-nya terhadap mata uang kertas lainnya, maka pendekatan Index seperti yang digunakan untuk US$ dapat pula digunakan untuk Rupiah.

Namun karena saya belum temukan ada yang membuat Rupiah Index ini secara real-time; maka di GeraiDinar saya gunakan Rupiah Index yang programnya saya develop sendiri. Formulanya mengikuti formula yang sama yang digunakan di US$ - hanya saya ubah starting date-nya bukan maret 1973 melainkan Januari 2000. Pada bulan Januari 2000, Rupiah Index yang saya singkat RIX ini saya set berada pada angka 100; ketika artikel ini saya tulis hasil perhitungan RIX menunjukkan angka 56.28; pada saat Anda baca RIX yang saya taruh di sidebar kiri, dibawah nilai tukar, kemungkinan besarnya akan menunjukkan angka yang berbeda.

Secara real time formula yang saya buat tersebut akan mencari nilai tukar terkini dari sejumlah mata uang kuat yang saya sebutkan diatas, kemudian menghitungnya secara rata-rata tertimbang geometris (geometric weighted average); kemudian hasilnya disajikan dalam bentuk Rupiah Index atau RIX ini.

Dengan menggunakan Rupiah Index ini – meskipun tidak sempurna – tetapi insyallah kita bisa melihat kekuatan mata uang kita secara relatif lebih baik. Berguna bagi saya untuk mengambil keputusan-keputusan investasi, insyallah juga berguna bagi Anda. Wa Allahu A’lam.

11 Desember 2009

Memperpanjang Usia (Usaha) Dengan Nilai-Nilai…

Di dunia usaha ada ratusan perusahaan yang umurnya ratusan tahun, bahkan di Jepang ada perusahaan yang lahir tahun 578 atau hanya 8 tahun setelah kelahiran Nabi kita Muhammad SAW sebelum akhirnya tutup 3 tahun lalu 2006 – pada usia 1428 tahun !. Perusahaan tersebut adalah Kongo Gumi yang menekuni bidang konstruksi. Saat ditutup Kongo Gumi dijalankan oleh Masakazu Kongo, yaitu generasi ke 40 dari pendirinya. Contoh-contoh lain banyak, diantaranya adalah perusahaan gelas di Italia Barovier & Toso yang berumur 710 tahun dan di Jerman ada Hotel Pilgrim Haus yang berumur 702 tahun.

Ada pelajaran sangat berharga dari perusahaan-perusahaan yang umurnya ratusan tahun atau bahkan ribuan tahun tersebut, yaitu nilai-nilai yang di pegang oleh orang-orang yang menjalankannya. Jadi bukan capital, bukan teknologi, bukan bentuk perusahaan (koperasi, PT, BUMN dlsb) dan bukan kepandaian seseorang yang membuat suatu perusahaan langgeng – tetapi adalah nilai-nilai yang dipegang bersama. Perusahaan-perusahaan yang usianya sangat-sangat panjang tersebut justru kebanyakan perusahaan keluarga yang memegang teguh nilai yang dibangun oleh pendirinya, kemudian diturunkan ke anak-anak, cucu-cucu, sampai cicit-cicitnya (saya tidak tahu istilah untuk menyebut cucu dari keturunan yang ke 40 seperti pada Kongo Gumi diatas !).

Nah bagaimana kita membangun usaha kita ?, adakah nilai-nilai yang kita yakini dan pegang bersama ?. Jawabannya sebenarnya pada umumnya ada, dan ini pada sering dituangkan di situs perusahaan- laporan tahunan dan lain sebagainya. Masalahnya adalah mungkin perumusan nilai-nilai tersebut tidak terlalu dijiwai oleh para pelaku usaha itu sendiri, sehingga jangankan diturunkan – diamalkan oleh generasi pertama-pun tidak.

Kita sebagai umat Rasulullah SAW, sungguh beruntung kita memiliki uswatun hasanah – contoh yang sempurna untuk segala sendi kehidupan kita. Untuk berusaha/bekerja mencari penghidupan-pun, kita memiliki pedoman yang sangat baik. Salah satu contohnya adalah hadits dibawah ini (sayangnya saya tidak ketemu buku/kitab dimana saya menemukan hadits ini dulu, sehingga kalau toh ada kekeliruan dalam mengutibnya – saya mohon ampun hanya kepadaNya – dan saya hanya mengambil nilai-nilai yang terkandung didalamnya).

Dalam sebuah Hadits diceritakan perintah Allah kepada malaikat Mikail yaitu malaikat yang tugasnya mendistribusikan rizki. Terjemahan bebas dari perintah tersebut adalah sebagai berikut : “Kamu (Mikail) dalam melaksanakan tugas membagi rizki akan menemui tiga golongan manusia ( maka perlakukanlah manusia tersebut sesuai golongannya ). Golongan pertama adalah orang-orang yang hanya akhirat cita-citanya, maka kepada golongan ini jaminlah rizkinya di langit dan di bumi. Golongan kedua adalah orang-orang yang mencari rizki untuk hidupnya, untuk memberi nafkah anak istrinya , namun mereka melakukannya dengan penuh Kejujuran, Kehati-hatian, dan Keadilan, maka mudahkanlah dia dan beri dia yang baik-baik. Golongan ketiga adalah yang mencari diluar dari golongan pertama dan kedua (artinya tidak mencita-citakan akhirat, bahkan ketika mencari nafkah untuk diri dan anak istrinya kadang tidak jurjur, kadang tidak hati-hati, kadang pula tidak adil), maka biarkanlah mereka (tidak dimudahkan/tidak ditolong, tidak pula diberi yang baik-baik) dan apabila mereka akhirnya (dengan susah payah) memperoleh apa yang mereka upayakan, itu tidak lebih daripada yang sudah Aku (Allah) tentukan”.

Belajar dari Hadits Qudsi tersebut, kita mungkin bukan termasuk golongan yang pertama. Namun kita tentu juga tidak ingin menjadi golongan ketiga. Maka pantaslah kalau kita mentargetkan minimal harus masuk golongan yang kedua yaitu golongan orang-orang yang akan dimudahkan dan diberi yang baik-baik oleh Allah. Namun syaratnya untuk mencapai golongan kedua ini kita harus berpegang teguh pada Kejujuran, Kehati-hatian, dan Keadilan. Tiga hal ini Kejujuran, Kehati-hatian, dan Keadilan adalah nilai-nilai yang dibutuhkan dalam muamalah sepanjang zaman.

Karena nilai-nilai yang dibawakan oleh Islam ini valid sepanjang jaman, valid 1400 tahun lalu, valid sekarang dan valid hingga akhir jaman – maka seharusnya institusi apapun yang dibangun diatas nilai-nilai tersebut – tak terkecuali institusi usaha – dapat tetap exist sepanjang jaman – sejauh nilai-nilai ini tetap dipegang oleh para pelakunya. Mau rizki yang mudah, baik dan langgeng ? Jujur, Hati-hati dan Adil kuncinya…!, InsyaAllah.

09 Desember 2009

Psikologi Pasar : Seperti Pelari Marathon…

Beberapa hari sejak akhir pekan lalu harga emas dunia terus mengalami penurunan. Setelah mencapai titik tertinggi diatas angka US$ 1,200 pekan lalu , pagi ini harga emas internasional diperdagangkan di kisaran US$ 1,128 atau mengalami penurunan sekitar 6 % dalam tiga hari perdagangan. Apa yang terjadi sebenarnya ? menurut data di Kitco pagi ini, penyebab mayoritasnya adalah aksi jual – selain juga disebabkan oleh faktor penguatan US Dollar.

Lantas bagaimana kita menyikapi pergerakan pasar yang sangat fluktuatif seperti dalam dua pekan terakhir ?; tergantung type investor seperti apa kita ini. Ibarat lomba lari, ada type pelari sprint yang bisa berlari sangat kencang untuk jangka pendek – misalnya 100 m. Record dunia untuk ini dipegang oleh Usain Bolt dari Jamaica dengan waktu 9.58 detik – lebih cepat dari kebanyakan mobil untuk menempuh 0 – 100 m yang pertama !. Kecepatan rata-rata untuk ini pelari sprint ini adalah sekitar 38 km/jam.

Ada pula pelari marathon, yang jarak standarnya adalah 42.195 km atau 26 mil plus 385 yards. Record dunia untuk ini dipegang oleh pelari Ethiopia Haile Gebrselassie dengan waktu 02:03:59 atau kecepatan rata-rata sekitar 20 km/jam.

Pelari sprint bisa berlari sangat kencang untuk periode yang pendek – tetapi dia belum tentu unggul untuk lari jarak jauh seperti marathon. Sebaliknya pelari marathon, piawai dalam mengelola tenaganya – sehingga mampu menjaga kecepatan larinya untuk jarak tempuh yang sangat panjang – meskipun dia kemungkinan besarnya tidak unggul bila diadu lari jarak pendek.

Dalam investasi, Anda bisa mengukur diri Anda sendiri dengan melihat dua contoh pelari tersebut. Ingin mendapatkan keuntungan yang besar dalam waktu sesingkat-singkatnya ; atau ingin memenangkan masa depan Anda dan keluarga dengan investasi yang unggul dalam jangka panjang.

Bila Anda type investor yang pertama (pelari sprint), maka investasi emas dan investasi sektor riil pada umumnya kurang cocok untuk Anda. Investasi di bursa saham mungkin lebih tepat untuk Anda.

Bila Anda type investor yang kedua (pelari marathon), maka sector riil yang dikelola dengan baik akan lebih cocok untuk Anda; atau kalau mengembangkan bisnis sector riil ini sulit – maka investasi di emas atau Dinar akan lebih aman bagi Anda.

Untuk para pelari marathon, antara lain diajarkan teknik-teknik menghemat energi yaitu sesedikit mungkin melakukan gerakan yang tidak perlu, membiarkan gerakan bagian-bagian tubuh , tangan dan kaki secara bebas, memfokuskan pandangan kearah yang jauh dan lain sebagainya.

Belajar dari teknik berlari marathon tersebut, Anda yang investor jenis ini juga dapat unggul dengan mengelola energi investasi Anda (sumber dana) dan fokus pandangan jangka panjang. Ketika para pelari (baca :investor) lain kelelahan dan mulai melepaskan investasinya seperti yang terjadi tiga hari terakhir di pasar dunia – maka ini waktu menabung yang baik untuk masa depan Anda. Wa Allahu A’lam.

06 Desember 2009

Noise Dan Signal Dalam Pasar Emas…

Saya sering mendapat pertanyaan terutama dari klien-klien yang baru atau calon klien tentang naik turunnya harga emas dunia; pertanyaan ini lebih sering muncul pada saat terjadi perubahan drastik – baik itu harga naik ataupun harga turun. Mudah-mudahan tulisan ini dapat menjawab secara umum – mayoritas dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Dalam pasar mata uang, pasar modal, komoditi dan tak terkecuali pasar emas ada istilah Noise And Signal yang berperan dalam pergerakan harga. Seperti ketika Anda mencari gelombang radio, ketika gelombang yang Anda putar tidak terlalu pas, stasiun terlalu lemah atau terlalu jauh – ada suara kresek-kresek yang tidak jelas – itulah Noise. Sementara bila Anda bisa menangkap suara yang sangat jelas, maka itulah Signal yang sesungguhnya.

Di pasar emas (juga pasar modal, pasar uang dlsb); Noise adalah issue-issue sesaat yang berpengaruh pada fluktuasi harga emas. Namanya juga issue – bisa benar, bisa juga salah – bahkan bisa juga di rekayasa oleh pihak tertentu. Sifat pengaruhnya jangka pendek, setelah issue atau penyebab jangka pendek tersebut mereda – maka harga emas akan kembali ke trend yang semula.

Contoh issue sesaat yang menjadi Noise di pasar emas secara berulang-ulang adalah (rencana) pelepasan emas IMF yang saya tulis di blog saya satu setengah tahun lalu (7 Mei 2008). Contoh lain adalah jatuhnya harga emas dunia akhir pekan ini setelah Amerika mengeluarkan data pengangguran yang ternyata tidak seburuk yang disangkakan oleh pasar – meskipun data ini juga diragukan oleh banyak pihak.

Bila Noise bisa disebabkan oleh issue sesaat yang tidak harus benar; tidak demikian halnya dengan Signal. Signal disebabkan oleh alasan yang bersifat fundamental dan biasanya berdampak dan teruji dalam jangka panjang. Dalam harga emas dunia yang dihitung dengan uang US$ misalnya; alasan fundamental yang mempengaruhi harga emas dunia antara lain ya nilai uang US$ itu sendiri. Uang US$ sangat dipengaruhi oleh fundamental ekonomi Amerika, maka harga emas dunia dalam US$ sangat dipengaruhi oleh ekonomi Amerika.

Di negara seperti Indonesia harga emas dalam Rupiah; Signal naik turunnya dalam jangka panjang selain tergantung ekonomi Amerika (karena harga emas internasionalnya tetap dalam US$) juga tentu saja sangat tergantung dengan ekonomi Indonesia sendiri , untuk ini lihat tulisan saya tentang Mengenal Gold Dinar Quadrant.

Grafik diatas adalah contoh Noise dan Signal ini; contoh Noise besar saya ambilkan periode antara Maret 2008 s/d November 2008 dimana pada periode tersebut harga emas dunia turun sampai 21 %-nya. Penyebabnya adalah issue-issue penyelamatan krisis ekonomi yang tidak jelas selama periode tersebut disamping juga faktor musiman. Bila Anda investor emas atau Dinar yang baru dan hanya menangkap Noise, maka pastilah Anda pada periode tersebut kecewa dengan penurunan ini.

Untuk contoh Signal yang sangat jelas saya ambilkan harga emas dunia dari rentang waktu Januari 2000 sampai awal Desember 2009 ini atau rentang waktu 10 tahun terakhir, dimana harga emas dunia dalam US$ naik menjadi lebih dari 3 kali lipatnya (323 %); maka bila Anda investor emas atau Dinar yang berorientasi jangka panjang – kemungkinan besar Anda telah menangkap dan memanfaatkan Signal yang sangat jelas ini.

Karena saya tidak pernah menganjurkan Anda untuk berspekulasi dengan harga emas jangka pendek; maka memahami Signal yang mempengaruhi atau menggerakkan harga emas jangka panjang adalah tema sentral dari tulisan-tulisan saya di situs ini. Wa Allahu A’lam.

03 Desember 2009

Greenspan-Guidotti Rule : Harga Emas Dunia & Peluang Meraih Kemerdekaan Kita…

Ketika saya mulai menyempatkan diri untuk menulis di blog dua tahun lalu, ada tulisan awal saya bertanggal 30 Desember 2007 yang berjudul Kehancuran Uang Kertas Mengikuti Deret Fibonacci. Karena pembaca saya saat itu belum sebanyak sekarang, dan orang belum melihat buktinya – maka tentu lebih banyak yang tidak percaya – daripada yang percaya – saya tentu memaklumi hal ini.

Kini hampir dua tahun kemudian coba kita tengok kembali kebelakang. Ketika tulisan tersebut saya buat, harga Dinar masih Rp 1,096,900 dan harga emas dunia berada pada angka US$ 833.75; Menjelang dua tahun harga Dinar kini sudah mencapai Rp 1,588,590,- dan harga emas dunia sudah berada pada angka US$ 1,215.70. Deret Fibonacci saya belum terbukti 100% memang, tetapi sudah sangat dekat – tinggal sejengkal langkah lagi - untuk terbukti.

Ini mengerikan saya sendiri yang menulisnya karena berarti kehancuran uang kertas itu begitu dekatnya. Kalau uang kertas merepresentasikan peradaban jaman ini, mungkin ini salah satu tafsir di surat Al Ma’aarij 5 – 7 berikut : “Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik. Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu jauh (mustahil). Sedangkan kami memandangnya dekat (pasti terjadi).”

Karena penasaran saya, kemudian saya berusaha mencari bukti ilmiah lain yang bisa menjelaskan ke masyarakat zaman ini tentang fenomena kehancuran uang kertas ini. Maka saya ambillah teori dari dedengkotnya uang kertas abad ini yaitu Alan Greenspan (dahulunya The Federal Reserve Chairman ) dan Pablo Guidotti (dahulunya Deputi Minister of Finance – Argentina). Kedua orang ini kemudian menghasilkan apa yang disebut Greenspan-Guidotti Rule, saya singkat saja menjadi GGR untuk kemudahan penulisan berikutnya.

Inti dari GGR ini sebenarnya sangat sederhana yaitu : “ Suatu negara harus memiliki cadangan yang minimal setara dengan hutang external jangka pendek (jatuh tempo setahun atau kurang)”. Dengan kata lain rasio antara reserve dan hutang jangka pendek minimal 1 ; bila kurang dari ini maka negara dalam bahaya kebangkrutan ekonomi.

Untuk contoh, lagi-lagi saya nggak mau menggunakan negeri sendiri takut ada yang marah. Maka saya ambillah contoh negara yang sering secara misleading disebut sebagai adi kuasa atau super power – Amerika Serikat. Alasan lain saya pilih negara ini karena uangnya US$ selama ini dipakai untuk mengukur harga emas internasional.

Bila GGR mensyaratkan rasio minimal 1 agar negara bebas dari ancaman kebangkrutan, maka seperti apa peluang AS untuk bangkrut dalam jangka pendek ?, marilah kita lihat cadangan dan hutang jangka pendeknya.

Untuk cadangan, saat ini AS memiliki 8,133.5 ton emas senilai sekitar US$ 300 Milyar; cadangan strategis berupa minyak 725 juta barrel senilai sekitar US$ 58 Milyar; dan menurt data IMF Amerika juga memiliki cadangan dalam mata uang asing sebesar US$ 136 Milyar. Kalau di total dari tiga cadangan utama ini hanya US$ 494 milyar, katakanlah ditambah lain-lain kita bulatkan saja jadi US$ 500 Milyar.

Mari sekarang kita lihat hutang jangka pendeknya. Menurut US Treasury, Amerika saat ini harus me-refinance- sekitar US$ 2 trilyun hutang jangka pendek; ini diluar defisit anggaran belanjanya yang mencapai US$ 1.5 trilyun, atau Amerika membutuhkan US$ 3.5 trilyun dalam 12 bulan kedepan.

Ambil yang US$ 2 trilyun hutang jangka pendeknya dahulu; kemudian kita lihat kemana mereka berhutang. Ternyata sejak tahun 1985 Amerika sudah menjadi negara yang hutangnya lebih besar ketimbang piutangnya ke negara lain (net debtor). Sekarang sekitar 44% dari US$ 2 trilyun hutang tersebut adalah hutang terhadap pihak luar. Artinya hutang Amerika jangka pendek yang harus segera dilunasi ke pihak di luar Amerika saja telah mencapai US$ 880 milyar, yang jauh lebih besar dari cadangan mereka yang hanya US$ 500 Milyar tersebut diatas. Dari sini saja jelas Amerika akan segera menjadi negara yang gagal berdasarkan Greenspan-Guidotti Rule.

Mungkin Anda akan berpikir bahwa sebagai negara besar, Amerika pasti bisa mengatasi masalah ini. Tetapi nanti dulu, perlu diingat bahwa bukan hanya terhadap hutang jangka pendek terhadap pihak luar yang Amerika akan gagal – untuk membiayai total hutang yang US$ 2 trilyun dan defisit belanja yang US$ 1.5 trilyun atau total US$ 3.5 trilyun – sampai saat ini para ahli negeri itu juga belum ketemu solusi yang bisa sustainable atau solusi yang berkelanjutan.

Saving bangsa Amerika saat ini hanya di kisaran US$ 600 Milyar pertahun; jadi kalau seluruh saving ini untuk membiayai hutang dan kebutuhan jangka pendek-pun tidak akan memadai. Mereka masih kekurangan dana sekitar US$ 3 Trilyun atau sekitar 40 % dari GDP mereka.

Well, tentu mereka akhirnya punya solusi untuk ini – meskipun bukan solusi yang sustainable. Apa solusi itu ?; mencetak uang dari awang-awang – atau dalam bahasa awam mereka printing money out of thin air. Bahasa teknisnya bisa keren-keren seperti quantitative easing, debt monetizing dlsb. Tetapi pertanyaannya sampai kapan mereka dapat melakukan ini ?, kalau ada orang berhutang kepada Anda, setiap kali ditagih terus menunda atau malah minta hutangan baru – apakah akan Anda terus berikan ?. Inilah nampaknya yang mulai dilakukan China dan India dengan mengurangi ketergantungannya pada US$ dan mulai secara serius meningkatkan cadangan emasnya.

Lantas apa hubungan ini semua dengan harga emas dunia ?; sederhana saja, kalau harga emas sekarang senilai US$ 1,215.70 ; apa jadinya kalau US$ tidak lagi dipercaya orang dan nilainya terus menurun, tinggal separuh, tinggal seperempat (seperti yang kita alami tahun 97/98) dan seterusnya ?. Maka harga emas dunia bisa berlipat ganda melebihi kelipatan yang sebelumnya saya perhitungkan dalam deret Fibonacci tersebut diatas.

Fibonacci bisa keliru, demikian pula dengan Greenspan dan Guidotti. Tetapi kehancuran system ribawi sudah dipastikan di Al-Qur’an (QS 2 : 276) jadi 100% saya percayai kebenarannya.

Lantas apa solusinya bagi kita sebagai bangsa dan pribadi ?. Lagi-lagi balik ke Al-Qur’an yang kebenarannya pasti : “….Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) secara sungguh-sungguh; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan…”. Ini cara Qur’ani untuk mempersiapkan diri menghadapi paceklik panjang dimulai dari gempa financial dahsyat yang epicentrum-nya US$ tersebut diatas. .

Dalam skala bangsa, kita punya seluruh sumber alam yang kita butuhkan berupa laut, hutan, tambang, lahan-lahan yang subur…maka tidak cukupkah waktu tujuh tahun kedepan untuk mengolahnya secara sungguh-sungguh dan mengelola penggunaannya secara efisien ?. Kalau ini dapat kita lakukan, maka insyallah negeri ini akan dapat bener-bener merdeka – mumpung system yang penjajah kita akan segera kalah perang (ekonomi) – ingat tahun 45 kita diberi rakhmat Allah berupa kemerdekaan (baru kemerdekaan fisik, belum kemerdekaan ekonomi, pemikiran dlsb.) melalui kekalahan perang negeri penjajah kita waktu itu !.

Ok, bicara negara dan bangsa mungkin terlalu luas; bagaimana kalau kita mulai dari diri kita sendiri ; bagaimana kalau kita berusaha secara maksimal untuk bisa memakmurkan bumi tempat kita berpijak – sehingga dalam tujuh tahun kedepan kita bisa benar-benar merdeka dari segala bentuk ketergantungan terhadap sesama manusia – menjadi semata-mata hanya mengabdi, menyembah dan bergantung hanya kepadaNya, “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (QS 112 :2). Insya Allah Bisa !.

Bagi yang ingin membuat langkah konkrit dalam hal ini, dapat bergabung dengan para peserta Pesantren Wirausaha – yang saat ini tengah mulai berjibaku untuk bisa belajar memakmurkan sejengkal bumi Allah yang diamanahkan ke kita di Jonggol-Bogor. Semoga Allah permudah kita dengan amal yang diridloiNya, Amin.


02 Desember 2009

Sanering Uang Kertas, Lho Kok Masih Ada...?


Waktu saya balita, ada dua peristiwa menggegerkan yang terkait satu sama lain yaitu Gestapu 1965 dibidang politik dan sanering Rupiah. Untuk urusan politik, biarlah situs-situs politik yang mengulasnya. Saya hanya tertarik mengulas yang terkait dengan sektor finansial.

Waktu itu uang kertas Indonesia-Rupiah lagi mengalami nasib yang tragis setelah dalam periode lima tahun antara tahun 1960 -1965 mencapai 650 % dan indeks biaya mencapai angka 438. Index harga beras mencapai 824, tekstil 717, dan harga Rupiah anjlok tinggal 1/75 (seper tujuh puluh lima) dari angka Rp 160/US$ menjadi Rp 120,000 /US$.

Karena Rupiah yang sudah tidak tertolong lagi ini, pemerintah waktu itu terpaksa mengeluarkan kebijakan yang disebut Sanering Rupiah yaitu memotong tiga angka nol terakhir dari Rupiah lama menjadi Rupiah baru. Kebijakan ini dituangkan dalam Penetapan Presiden atau Penpres No 27/1965 yang menjadikan Rp 1,000 (uang lama) = Rp 1,- (uang baru).

Isu Sanering Rupiah juga sempat mencuat dipuncak krisis politik bebarengan dengan krisis moneter Indonesia 32 tahun kemudian yaitu antara tahun 1997-1998. Meskipun akhirnya Sanering Rupiah tidak dilakukan, seandainya hal itu dilakukan pada tahun tersebut – ini juga bukan hal yang mengejutkan – karena tiga angka nol yang pernah dihilangkan pada tahun 1965 – ternyata balik kembali dalam waktu hanya 32 tahun tersebut.

Masih kuat diingatan kita ketika kita kecil membawa uang Rp 1,- cukup untuk bekal sekolah, saat ini anak kecil mana yang cukup berbekal Rp 1,000 untuk ke sekolah ?. Sanering Rupiah memang bukanlah kebijakan yang populer untuk menjaga nilai Rupiah, disisi lain membiarkan Rupiah pada angka ribuan atau bahkan puluhan ribu seperti sekarang juga bukan hal yang praktis sebenarnya. Bisa dibayangkan betapa seluruh sistem komputer keuangan Dunia harus mengakomodasi empat digit tambahan karena ada mata uang yang memerlukan empat digit memory lebih banyak dibandingkan dengan mata uang lain di dunia.

Bila sanering tidak ada dalam kamus moneter kita dewasa ini, tidak demikian halnya dengan Korea Utara. Negeri yang diisolir oleh negara-negara lain gara-gara bermain-main dengan nuklir tersebut, awal pekan ini men-sanering uang Won-nya dengan menghapus dua digit dalam uang Won – Korea Utara. Uang 100 Won menjadi 1 Won; 1,000 Won menjadi 10 Won dst.

Yang lebih mengerikan adalah tidak semua uang Won lama bisa ditukar dengan Won baru; Per orang hanya boleh menukarkan maksimum 100,000 Won. Bagi rakyat yang memiliki uang lebih dari 100,000 Won ; maka kelebihan uang diatas 100,000 menjadi kertas sampah – yang tidak bisa ditukar lagi menjadi uang. Inilah perampasan kekayaan rakyat secara besar-besaran yang dilakukan oleh rejim pemerintah komunis negeri itu. Memang akhirnya batasan tersebut dinaikkan menjadi 150,000 Won untuk tunai dan 300,000 Won untuk rekening di bank; tetap saja perampasan besar-besaran terjadi melalui mekanisme ’penghilangan’ nilai uang kertas ini.

Memang ini terjadi di Korea Utara, negeri yang kacau balau dalam segala hal. Tetapi sesungguhnya sistem uang kertas mereka tidak jauh berbeda dengan sistem uang kertas lain yang dipakai di seluruh dunia saat ini. Nilai tukar Won sebenarnya juga tidak buruk-buruk amat, nilai resminya sebelum sanering adalah 1 US$ sekitar 135 Won – hanya nilai realistisnya kira-kira seperduapuluh dari nilai resminya – karena di pasar gelap orang menukar 2,000 Won s/d 3,000 Won untuk memperoleh 1 Dollar.

Katakanlah nilai realistik tersebut yang valid 2,000 Won s/d 3,000 Won per US$ ; ini masih tiga sampai empat kali lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan uang negeri lain yang kadang perlu angka 10,000 untuk mendapatkan 1 Dollar-nya.

Dengan membuat perbandingan ini, tentu saya tidak berharap sama sekali akan adanya sanering di negeri ini seperti yang terjadi di tahun 1965 tersebut diatas – karena kalau hal ini terjadi – pastilah chaos yang akan timbul.

Yang perlu kita sadari dan dilakukan oleh masing-masing kita adalah mempertahankan – syukur-syukur bisa meningkatkan daya beli – bukan mempertahankan atau meningkatkan angka-angka. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk ini, seperti mempertahankan asset terbesar Anda dalam bentuk stok atau komoditi– bila Anda pandai berdagang; menanam pohon, pelihara kambing dan sejenisnya bila Anda petani/peternak dst. Hanya bila Anda belum ketemu sektor riil yang pas yang bisa Anda tekuni dengan baik, mempertahankan dalam bentuk Dinar/emas adalah salah satu pilihannya yang mudah. Wa Allahu A’lam.

01 Desember 2009

Pelajaran dari Krisis Dubai dan Century ...

Akhir pekan lalu bersamaan dengan umat Islam di seluruh dunia merayakan Iedhul Adha dan masyarakat Amerika merayakan Thanksgiving Day – masyarakat financial diresahkan oleh kabar Technical Default-nya Dubai World semacam BUMN-nya Dubai.

Mengapa kegagalan sebuah ‘BUMN’ investasi semacam Dubai World (tidak ada hubungannya dengan Dinar World yang kita miliki !) bisa membuat pasar seluruh dunia panik ?, size atau ukuran yang jadi masalah. Dubai World memiliki potensi gagal bayar terhadap hutang yang nilainya mencapai US$ 60 Milyar – atau hampir sama besar dengan cadangan devisa negara kita !.

Bayangkan bila Dubai World benar-benar tidak bisa membayar hutangnya pada bank-bank besar dunia ? seluruh perbankan dunia bisa jadi kena getahnya – karena system financial dunia yang terkait satu sama lain.

Mirip dengan kisruh bank Century di Indonesia – yang dengan alasan Dampak Sistemik-nya ; bank sentral United Arab Emirates di hari Ahad kemarin memutuskan untuk menolong Dubai World dengan fasilitas darurat khusus sehingga ketika semua pasar modal dan pasar uang seluruh dunia buka hari Senin kemarin – krisis Dubai World nampak sudah terselesaikan.

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari sini ?; bayangkan kalau Anda seorang penabung di sebuah bank besar di Amerika (atau dimanapun di dunia), tiba-tiba ada sebuah perusahaan raksasa di negeri nun jauh di Arab yang gagal bayar hutangnya terhadap bank Anda – maka ada kemungkinan bank Anda akan terseret pada rantai kebangkrutan yang sama. Dan apa yang terjadi terhadap uang Anda ?.

Well, mungkin Anda berpendapat kan ada Penjamin Simpanan ?. Betul, ini cukup menenangkan. Namun saya sebagai orang awam juga berfikir, kalau sistem penjamin simpanan berjalan dengan baik…bukankah seharusnya tidak ada sejumlah besar nasabah bank Century yang sampai harus berdemo dari waktu ke waktu untuk menuntut uangnya balik ?. Bukankah hak angket DPR untuk kasus Bank Century tidak juga perlu kalau lagi-lagi Penjamin Simpanan ini memang berjalan baik…?.

Jadi untuk amannya memang dalam berinvestasi kita tidak disarankan untuk menaruh seluruh telur pada keranjang yang sama; tidak masalah kalau sebagian uang kita berada di dunia perbankan –karena kemudahannya untuk transaksi kita akui belum tertandingi oleh system yang lain. Namun menaruh semua asset kita di dunia perbankan juga kurang bijaksana – karena potensi masalah – yang oleh orang pemerintah sendiri dperkenalkan ke publik sebagai – Dampak Sistemik.

Tentu kita tidak ingin kalau hasil jerih payah kita bertahun-tahun ludes oleh hantu baru bernama – Dampak Sistemik – yang konon bisa terjadi kalau bank kecil saja (sekelas Century) dibiarkan ambruk.

Kasus Century memang bak buah simalakama di negeri ini sekarang; kalau upaya penyelamatannya sudah dilakukan dengan kajian yang paripurna dan demi kepentingan penyelamatan sektor keuangan Indonesia semata karena Dampak Sistemik tersebut benar-benar ada - maka orang awam seperti kita jadi paham – betapa rawannya system perbankan ini. Diantara puluhan bank yang perkasa, satu bank lemah bisa menghancurkan seluruhnya karena hantu Dampak Sistemik ini.

Sebaliknya, bila sebenarnya perbankan cukup aman dan hantu Dampak Sistemik tersebut tidak pernah ada – maka harus ada yang bertanggung jawab atas kebohongan besar di negeri ini yang menyita begitu banyak waktu, tenaga dan pikiran bangsa ini. Semoga Allah menujukkan yang hak-itu hak sehingga kita bisa mengikutinya; dan yang batil itu batil agar kita bisa menjauhinya. Amin.


Disclaimer

Meskipun seluruh tulisan dan analisa di blog ini adalah produk dari kajian yang hati-hati dan dari sumber-sumber yang umumnya dipercaya di dunia bisnis, pasar modal dan pasar uang; kami tidak bertanggung jawab atas kerugian dalam bentuk apapun yang ditimbulkan oleh penggunaan analisa dan tulisan di blog ini baik secara langsung maupun tidak langsung.

Menjadi tanggung jawab pembaca sendiri untuk melakukan kajian yang diperlukan dari sumber blog ini maupun sumber-sumber lainnya, sebelum mengambil keputusan-keputusan yang terkait dengan investasi emas, Dinar maupun investasi lainnya.